Tuesday, June 11, 2013

Bagaimana semestinya kita bersikap terhadap kehilangan pekerjaan dan pekerjaan yang tak memuaskan?

Implikasi persatuan dengan Kristus dalam menghadapi kehilangan pekerjaan dan bekerja dalam pekerjaan yang tidak memuaskan.  

Kehilangan pekerjaan 
Dalam budaya kita, pekerjaan dipandang penting. Untuk beberapa orang malah pekerjaan merupakan sumber security dan identitas. Maka, kehilangan pekerjaan tidak hanya dapat mendatangkan financial stress, tetapi juga bisa menghancurkan hidup seseorang, ketika ia memertaruhkan security, identitas, masa depannya pada pekerjaan. Bagaimana semestinya orang Kristen melihat karir? Orang Kristen menemukan identitas dan security-nya dalam Kristus. Kehilangan pekerjaan tentu bisa menyakitkan, menyebabkan stress, tetapi hal yang paling berharga tidak dipertaruhkan. Karena bersatu dengan Kristus, orang Kristen punya resources melampaui wisdom, karakter, kekuatannya sendiri. Christ is in control, dan selalu bermaksud mendatangkan kebaikan bagi mereka yang percaya. Ini akan melindungi orang Kristen dari discouragement dan memberi keberanian, iman, dan harap dalam masa sulit.  

Bekerja dalam thankless job atau pekerjaan yang tak memuaskan. 
Jika kita memandang hubungan, circumstances, prestasi sebagai fulfillment, tentulah kita akan menjadi putus asa, marah, pahit, bekerja dalam pekerjaan yang tak memuaskan. Tetapi jika fulfillment kita ada pada Kristus, kita tidak mendekati hidup dengan feeling needy. Kita akan menghadapi tantangan thankless job setiap hari dengan kepuasan (contentment) dan sukacita NO JOB COULD EVER GIVE. Ini tidak berarti kita tidak akan pernah menjadi discouraged, capek, bosan. Ini berarti kita punya seseorang yang kita percaya, yang akan menolong kita melewati masa sulit. Yes, your job may bore you. Yes, you had hoped to do something more significant. Yes, you wish you could find a way out. Tapi kita tidak pergi bekerja untuk mencari fulfillment. Yes, pekerjaan bisa memberi sense of dignity, tapi ia tidak akan mendefinisi diri kita. Karena dalam Kristus kita penuh, joyful, puas. Meski kita melakukan pekerjaan yang thankless, kita tahu Kristus tidak pernah melupakan apa yang kita lakukan demi nama-Nya. Persatuan dengan Kristus memberi meaning pada segala sesuatu yang kita lakukan dan katakan.

Sobat, kita mungkin capek, tapi kita tidak akan putus asa. Kita mungkin sedih, tapi kita tidak akan hopeless. Kita akan merasa sakit, tapi kita tidak akan menyerah. Kita akan nikmati berkat, tapi kita tidak akan jadi pongah. Hidup kita tidak hanya terdiri dari apa yg kita punya, kita rasakan, kita capai, tetapi dalam siapa kita dalam Kristus. Ini akan menjadi kekuatan kita setiap hari.

Amin.

Sumber: Tim Lane & Paul Tripp, How People Change.

Thursday, May 9, 2013

Childlikeness

I got this from Rev. Scott Hoezee's sermon entitled "The Strong Father."
William Sloane Coffin once noted that when we think about Jesus' call to receive the kingdom like children, we often think only about the natural humility of kids. But, Coffin said, we should not underestimate the sweet idealism of children. It's children, after all, who want to save the seals, save the whales, and save everybody else while they're at it. It's kids who set up lemonade stands and sell cookies so they can then turn their nickels and dimes over to this or that relief agency. It's children who take home the little church-shaped piggy banks, fill them with copper coins, and then bring them back to the minister, really believing that those pennies will help make a new addition to the church a reality. It's children who have a neighborhood walk around Oakdale Christian School, holding up homemade signs calling for racial reconciliation and really believing that they are making a difference by taking to the sidewalk that way. And, of course, we encourage this in children. We buy the lemonade, compliment the delicious cookies, and stick our loose change into empty coffee cans. But then the day comes when we start to discourage in older children the very idealism we encourage in children below a certain age. Why do we do that? Would Jesus think that's a good way to make a Christian child grow up?

Wednesday, March 6, 2013

Appetite for God

Apa sebenarnya experience of God itu? Apa yang terjadi jika saya mengalaminya? Seperti apa? Bagaimana saya tahu bahwa pengalaman rohaniku otentik, bukan dibuat-buat?

Baca Mazmur 63.

Dua prinsip menandai pengalaman rohani yang otentik, yang dengannya dapat kita uji pengalaman rohani kita.
  1. Having an appetite for God. // memiliki selera rohani
  2. Turning information about God into sensation of God. // Informasi mengenai Allah menjadi pengalaman rohani.
1. Appetite for God // Selera rohani
Selera berarti perasaan absen. Jika saya tidak punya selera, apakah karena sakit atau obat penekan selera yang saya pakai, maka saya akan melihat makanan apapun di hadapan saya tanpa rasa ingin. Punya selera berarti punya rasa kurang dan dorongan untuk memenuhi. Berbicara mengenai selera spiritual, rasa menginginkan Allah (desiring God) tdk bisa terjadi tanpa Allah menyentuh hati kita lebih dulu (Mazmur 63:2). A sense of God’s absence is a sense of His presence in your life. Sdr/i, selera rohani ini crucial. Tidak berselera berarti sakit, atau bahkan mati.

Spiritual check-up: Apakah Sdr/i berselera rohani? Adakah kerinduan akan Allah di hatimu? Dapatkah Sdr/i berkata seperti Daud, “Jiwaku haus akan Engkau.”

2. Sensasi rohani
Tanda lain pengalaman rohani yang otentik adalah kita memperoleh perasaan yang baru (a new sensation).

Jonathan Edwards pernah berkata:
There is a difference between believing that God is holy and gracious, and having a new sense on the heart of the loveliness and beauty of that holiness and grace. The difference between believing that God is gracious and tasting that God is gracious is as different as having a rational belief that honey is sweet and having the actual sense of its sweetness.
Pada Spring 1721, Edwards merenungkan 1 Tim 1:17: “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, satu-satunya bijak! Amin.” Setelah melalui disiplin rohani ketat, sesuatu terjadi padanya. Ketika ia berjalan di kampus Yale, merenungkan ayat tsb. Allah memberikan pengalaman baru padanya. Ia mengaku, Allah yg begitu jauh jadi begitu dekat dengannya. Berikut kesaksiannya: 
As I read the words, there came into my soul, and as it were diffused through it, a sense of the glory of the divine being; a new sense, quite different from anything I ever experienced before. Never any words of Scripture seemed to me as these words did. I thought with myself, how excellent a Being that was; and how happy I should be, if I might enjoy that God, and be wrapt up to God in heaven, and be as it were swallowed up in him. (Works 16, 792-3) 
 Spiritual check-up:
  1. A new sense of God akan disertai dengan delight/sukacita-nikmat. Sukacita bukan terutama karena berkat, atau jawaban doa, atau benefit yang kita peroleh dari Allah, tapi semata-mata karena Dia. Kita bersuka karena Dia, dan akan Dia. Adakah sukacita semacam di hatimu? 
  2. Kekuatan setiap hari. Kita cemas, takut, tapi kemudian kita membaca Roma 8. Di sana kita membaca bahwa Tuhan sangat mengasihi kita dan jika Ia berada di pihak kita, siapa dapat melawan kita? Pertanyaannya, apakah perkataan itu real dalam hati kita, tak sebatas kita ketahui? Sampai Firman Allah menjadi real dalam hatimu, se-real rasa cemasmu, ia tak akan mengatasi kecemasanmu atau mengubah hidupmu. Kalau kita melihat Mazmur, spiritual experience bukanlah experience yang asing bagi penulisnya. It's so real, as real as our physical sensory, taste, drink, eat, touch, and so on.

Friday, March 1, 2013

70 Resolutions

Jonathan Edwards is one of my favorite theologians. He wrote his resolutions at the age of 18 or 19. Yes, he was so young. Here you can see how madly passionate he was about the things of God. I think if I could just have half of his passion, my life would be ... 


Tuesday, February 19, 2013

Biblical Fasting

Fasting is a full body action.
Baca Psalm 35:13-14! Daud melibatkan tubuhnya ketika berdoa. Ia berpuasa dan mengenakan pakaian kabung. Ia melakukannya untuk menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Jadi, puasa juga dapat dipahami sebagai intensification of prayer, atau embodiment of prayer.

Beberapa kutipan mendukung gagasan puasa sebagai a full-body action.

John Calvin:
Whenever men are to pray to God concerning any great matter, it would be expedient to appoint fasting along with prayer. Their sole purpose in this kind of fasting is to render themselves more eager and unencumbered for prayer . . . with a full stomach our mind is not so lifted up to God. // Ketika kita berdoa kepada Allah untuk urusan yang serius, mungkin kita perlu berdoa dan berpuasa. Maksud utama puasa ini adalah untuk menyatakan diri kita lebih sungguh dan bebas, tidak dibebani hal-hal lain, lebih berfokus, untuk berdoa. . . dengan perut kenyang pikiran kita tidak begitu terangkat pada Allah.
Andrew Murray, pendeta Reformed di Cape Town, South Africa:
Fasting helps us to express, to deepen, and to confirm the resolution that we are ready to sacrifice anything, even ourselves, to attain the Kingdom of God. // Puasa membantu kita mengekspresikan, memperdalam, dan menegaskan tekad bahwa kita siap mengorbankan apapun, bahkan diri kita sendiri, untuk memperoleh Kerajaan Allah.
John Piper, pendeta Bethlehem Baptist Church:
They (the saints) were hungry enough for God’s leading that they wanted to say it with the hunger of their bodies and not just the hunger of their hearts. // Mereka begitu lapar akan pimpinan Allah sehingga mereka ingin mengatakannya dengan kelaparan tubuh dan tak hanya dengan kelaparan hati.
Fasting is a response to a grievous sacred moment of life.
Puasa sebagai respon terhadap momen hidup yang amat penting dan serius, serta tak jarang menyebabkan kita menderita.


A: Sacred Moment

Death
Sin
Fear
Threats
Needs
Sickness


B: Response



Fasting

C: Results

Life
Forgiveness
Safety
Hope
Answers
Health

Puasa biblical menekankan A - B. Bukan tidak ada C: Results. Tapi C tergantung dari kehendak Allah, dari apakah kita in tune tidak dengan kehendak dan rencana-Nya.

Jika kita hanya menekankan movement B - C, maka puasa kita menjadi alat manipulasi. Dan itu bukan puasa biblical. Puasa instrumental, iya. Puasa biblical adalah puasa responsive. Ketika suatu peristiwa terjadi, maka umat Allah berdoa dan berpuasa, menyatakan isi hati mereka.

Is this the time for fasting?
Baca Matthew 9:14-17!

PRE-JESUS
JESUS
CHURCH
KINGDOM
Fasting
Feasting
Rhythm of Fasting and Feasting
Feasting

Ya, inilah saat kita berpuasa. Kita berpuasa karena kita merindukan Yesus yang akan datang kembali. Saat ini kita content tapi masih longing for more of Him. Kita ingin melihat kedatangan-Nya dalam kemuliaan, membarui segala sesuatu, menghadirkan Kerajaan-Nya di muka bumi.

John Piper dalam Hunger for God, berkata:
The more deeply you walk with Christ, the hungrier you get for Christ . . . the more homesick you get for heaven . . . the more you want “all the fullness of God” . . . the more you want to be done with sin . . . the more you want the Bridegroom to come again . . . the more you want the Church revived and purified with the beauty of Jesus . . . the more you want a great awakening to God’s reality in the cities . . . the more you want to see the light of the gospel of the glory of Christ penetrate the darkness of all the unreached peoples of the world . . . the more you want to see false worldviews yield to the force of Truth . . . the more you want to see pain relieved and tears wiped away and death destroyed . . . the more you long for every wrong to be made right and the justice and grace of God to fill the earth like the waters cover the sea.

If you don’t feel strong desires for the manifestation of the glory of God, it is not because you have drunk deeply and are satisfied. It is because you have nibbled so long at the table of the world. Your soul is stuffed with small things, and there is no room for the great. God did not create you for this. There is an appetite for God. And it can be awakened. I invite you to turn from the dulling effects of food and the dangers of idolatry, and to say with some simple fast: “This much, O God, I want you.”

Friday, February 15, 2013

Yummy Bacon

Folks, if Tulip doesn't really work for you, or you just don't get it, my suggestion is try Bacon. I like bacon better so far. In fact, I like it so much. What??? Oh, don't worry, my friends. It won't make you fat. Just try it first, ok, ok, ok?


Tuesday, February 12, 2013

Rabu Abu

Masa Prapaskah mulai lebih awal tahun ini dengan Rabu Abu jatuh pada 13 Februari. Masa ini bukan sekadar masa kita berpantang (abstinence). Pertanyaan lebih penting untuk kita renungkan bersama di masa ini adalah Bagaimana kita bertobat dan berpulang pada Allah dengan segenap hati? Disiplin-disiplin apa yang dapat membantu kita selama hari-hari yang kita khususkan ini?

Mungkin baik kita bertanya pada diri sendiri:
o Bagaimana saya melakukan penyelidikan diri (self-examination) dan pengakuan dosa (confession) begitu rupa sehingga membawa kesadaran akan keadaan diri saya sebenarnya di hadapan Allah? (Mazmur 51:6)
o Bagaimana saya akan memberi? (Matius 6:2, 3)
o Bagaimana saya akan berdoa? (Matius 6:5-13)
o Siapa yang perlu saya maafkan dan dari siapa saya perlu memohon pengampunan? (Matius 6:14, 15)
o Bagaimana saya akan berpuasa? Apa yang perlu saya pantangi supaya membuka ruang lebih besar bagi Allah? (Matius 6:16-18)
o Apa harta duniawi yang amat lekat dengan saya dan bagaimana saya melepasnya demi berpartisipasi dalam pekerjaan Allah? (Matius 6:19-21)
o Bagaimana saya berdamai dengan Allah dan bagaimana saya terlibat dalam pelayanan pendamaian di masa Prapaskah? (2 Korintus 5)
o Bagaimana saya mempraktekkan “kerahasiaan” agar saya melaksanakan disiplin rohani ini secara lebih intensional? (Matius 6:1, 5, 16-17)

Tuesday, December 18, 2012

Rapture

Posting lama, namun agaknya masih penting untuk dibaca.

Dua orang sedang menunggu bus lewat. Yang seorang berdiri, lainnya duduk. Tiba-tiba yang pertama lenyap, sedang yang terakhir tinggal. Seorang ayah mengajak putrinya main-main di taman. Tiba-tiba sang putri lenyap, padahal sang ayah sedang memeluknya erat-erat.  

Apakah anda familiar dengan gambaran ini? Ada tertulis dalam Matius 24:40-42, “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” Oleh karena itu, kita dipanggil untuk selalu berjaga-jaga, sebab kapan saja Tuhan bisa datang. Kita harus siap sedia. Jika kita tak siap, kita akan ditinggalkan. Sebaliknya, jika kita siap, kita akan diangkat-Nya.

Kebanyakan orang Kristen percaya pada tafsir demikian. Mereka menyebut peristiwa itu sebagai ‘rapture.’ Tapi familiaritas dan mayoritas tidaklah menjamin kebenaran. Saya harap anda bisa mengerti ini.

Pertanyaannya, apakah rapture merupakan konsep alkitabiah? Jawabnya, sama sekali tidak. Alkitab tak pernah mengajarkan rapture theology. Ajaran dan tafsir ini pertama kali disampaikan oleh seorang teolog British, John Nelson Darby. Ia kemudian dianggap sebagai bapak dispensasionalisme.

Matius 24 jelas tidak berbicara mengenai pengangkatan. Silakan anda baca lagi pasal tersebut dengan baik, lalu bandingkan dengan Markus 13. Konteks dari Matius 24 adalah keruntuhan bait Allah. Di sana Yesus dan murid-murid sedang mempercakapkan bait Allah yang dibangun kembali oleh Herodes. Yesus mengatakan bahwa nanti semua itu akan diruntuhkan hingga rata dengan tanah. Kapankah terjadinya? Ketika perang Romawi-Yahudi tahun 70 AD. Pada waktu itu sejarah mencatat bahwa Bait Allah diruntuhkan oleh Romawi. Jadi, Yesus sebenarnya menubuatkan kehancuran bangsa Israel. Mereka tengah berada di bawah penghakiman Allah.

Nah, dalam situasi perang tentulah setiap orang harus bersiap sedia untuk kabur dan menyelamatkan diri. Jika ada dua orang di ladang, yang seorang bisa diciduk, yang lain dibiarkan. Rapture theology telah menakut-nakuti begitu banyak orang Kristen. Dengan mempelajari konteks naratif dan sejarah alkitabiah, kita akan memahami nubuat Yesus bertolak belakang dengan paham rapture.

Bagi rapture theology yang diangkat, selamat; yang ditinggalkan, sial. Pembacaan yang alkitabiah: yang diangkat (diciduk, ditangkap) celaka, yang ditinggalkan justru selamat. No one knew what was going to happen at the time.

Di bawah ini anda bisa menyaksikan interview dengan Barbara Rossing, seorang New Testament Scholar, Debungking the Rapture. Menurut saya, sangat bagus dan mencerahkan.
  
 

Interview dengan N. T. Wright on Heaven and Rapture Theology juga membantu.  

Sunday, December 16, 2012

Longing for joy

C. S. Lewis in The Weight of Glory says,
I am trying to rip open the inconsolable secret in each one of you — the secret which hurts so much that you take your revenge on it by calling it names like Nostalgia and Romanticism and Adolescence... Wordsworth’s expedient was to identify it with certain moments in his own past. But... if Wordsworth had gone back to those moments in the past, he would not have found the thing itself... The books or the music in which we thought the beauty was located will betray us if we trust to them; it was not in them, it only came through them, and was only longing. If these things are mistaken for the thing itself they turn into dumb idols, breaking the hearts of their worshippers. For they are not the thing itself; they are only the scent of a flower we have not found, the echo of a tune we have not heard, news from a country we have never yet visited... But if we are to take the imagery of Scripture seriously, we believe that God will one day give us the Morning Star and cause us to put on the splendor of the sun... At present we are on the outside of the world, the wrong side of the door. Someday, God willing, we shall get in. When human souls have become as perfect in voluntary obedience as the inanimate creation is in its lifeless obedience, then they will put on its glory, or the greater glory of which Nature is only the first sketch... Our Lord finds our desires not too strong, but too weak. We are half-hearted creatures, fooling about with drink and sex and ambition when infinite joy is offered us, like an ignorant child who wants to go on making mud pies in a slum because he cannot imagine what is meant by the offer of a holiday at the sea. We are far too easily pleased.

Wednesday, December 12, 2012

How important is the assurance of salvation in your life?

J. C. Ryle says,
Assurance [of salvation] goes far… It enables you to feel that the great business of life is a settled business, the great debt is a paid debt, the great disease is a healed disease, and the great works a finished work; and all other business, diseases, debts and works are then by comparison small. In this way assurance makes you patient in tribulation, calm under bereavements, unmoved in sorrow, not afraid of evil tidings, in every condition content, for it gives you a fixedness of heart…

What do you love when you love God?

St. Augustine in his Confessions, book X, answers this question:
But what do I love, when I love Thee? Not beauty of bodies, nor the fair harmony of time, nor the brightness of the light, so gladsome to our eyes, nor sweet melodies of varied songs, nor the fragrant smell of flowers, and ointments, and spices, not manna and honey, not limbs acceptable to embracements of flesh. None of these I love, when I love my God; and yet I love a kind of light, and melody, and fragrance, and meat, and embracement when I love my God, the light, melody, fragrance, meat, embracement of my inner man: where there shineth unto my soul what space cannot contain, and there soundeth what time beareth not away, and there smelleth what breathing disperseth not, and there tasteth what eating diminisheth not, and there clingeth what satiety divorceth not. This is it which I love when I love my God.

Thursday, November 15, 2012

Sermon Note: Gospel Humility

Bible reading: Romans 12:2-3; 1 Corinthians 4:3-4, 6

After we offer our lives to be a living sacrifice, what’s next?
In v. 2 Paul is speaking about God’s will. He begins with the negative counsel: “Do not conform to the pattern of this world.” Then he continues with the positive one: “Give your life to be transformed by the renewing of mind.” The renewing of mind is a continual process. For us to know the will of God, it is not going to be a one time event. It needs to be a learning process.

How is it like to have a renewed mind? How does the renewed mind think?
Paul also speaks about the mind renewing in a negative and positive structure. v3 Negative: do not think with hyper-minded, beyond what you must think. Positive: but think soberly; think in the right mind, with proper judgment and moderation.

Now this is remarkable! From all the things he could possibly say about human mind, and how it works, he chooses to speak about pride (hyper-minded). Why?

The answer is: Because Paul believes that the root cause of all divisions, of why we can’t get along, and of war are boasting, pride.

Wednesday, October 31, 2012

Reformasi atau Halloween? Ya!














Hari ini, 31 Oktober 2012, kembali kita merayakan Hari Reformasi dan Halloween. Hari Reformasi merupakan salah satu hari besar gereja Protestan, tapi Halloween, apa hubungannya dengan gereja?

Banyak orang Kristen masih bertanya, “Apakah boleh kita ikut merayakan Halloween?”
Jawab saya, boleh saja, asal dengan pengertian yang benar.

“Halloween” sebenarnya merupakan singkatan dari All Hallows’ Eve – Hallow even – Hallow e’en – Halloween. Hallow sendiri merupakan kata lain dari holy, kudus. Ingat Doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris, “Hallowed be Your Name,” artinya “Dikuduskanlah Nama-Mu.”

Sehari setelah All Hallow’s Eve, 1 November, diperingati sebagai All Saint’s (Hallow’s) Day. Hari tersebut merupakan perayaan atas kemenangan orang-orang kudus dalam Yesus Kristus (Union with Christ). Jadi, kita lihat sedianya All Saints Day tak ada urusannya dengan ritual/kegiatan penyembahan setan-setan.  

Ide perayaan Halloween sederhana. Pada 31 Oktober, roh-roh jahat mengerahkan segenap kekuatan mereka untuk merebut kemenangan, namun gagal oleh sukacita kemenangan orang-orang Kudus. Untuk menyatakan kekalahan mereka, kita menertawai dan mengejek mereka. Mengapa mengejek? Karena Iblis telah kalah dalam perang melawan Yesus, dan ia tak lagi berkuasa atas kita. Iblis tak lagi menakutkan kita!

Dalam Perjanjian Baru, kita membaca, peperangan kita “bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:12). Kita percaya bahwa dengan iman, doa, dan ketaatan, orang-orang kudus milik Allah akan memenangkan peperangan melawan segala kuasa gelap.

Maka, kekalahan kuasa jahat dan gelap berkait dengan Halloween. Untuk itulah, Martin Luther memasang 95 dalilnya pada hari Halloween demi untuk mereformasi gereja yang telah terjebak oleh tipu muslihat iblis, dan menyesatkan umat. Ia sengaja memilih hari Halloween, saya kira, karena pada hari itulah umat berkumpul untuk berbakti di chapel sehingga ada peluang bagi para teolog atau rohaniwan yang umumnya mengerti Latin membaca selebaran tersebut. Sejak itu gereja-gereja Protestan merayakan Halloween sebagai hari Reformasi.

Sebagai penutup, mari renungkan sepotong kutipan dari seorang teolog Reformed Belanda, Herman Bavinck, The Christian Family, yang terbit di tahun 1908.
All good, enduring reformation begins with ourselves and takes its starting point in one’s own heart and life. If family life is indeed being threatened from all sides today, then there is nothing better for each person to be doing than immediately to begin reforming within one’s own circle and begin to rebuff with the facts themselves the sharp criticisms that are being registered nowadays against marriage and family. Such a reformation immediately has this in its favor, that it would lose no time and would not need to wait for anything. Anyone seeking deliverance from the state must travel the lengthy route of forming a political party, having meetings, referendums, parliamentary debates, and civil legislation, and it is still unknown whether with all that activity he will achieve any success. But reforming from within can be undertaken by each person at every moment, and be advanced without impediment.
Dan sebagai kenang-kenangan hari Reformasi, silakan Anda mengunduh (download) kuliah R.C. Sproul mengenai Luther dan Reformasi tanpa dipungut bayaran alias gratis. Jangan lewatkan, tawaran ini mungkin hanya berlaku untuk hari ini: ligonier.

Monday, July 30, 2012

Sabbath - Ceasing

I just want to share my sermon on Sabbath-Ceasing with you. My hope is that you may be blessed and strengthened by it. It was delivered in Indonesian at IRECT, my church in Canada.

Please click Ceasing.

Thursday, July 12, 2012

I Owe Myself to Him Twice Over

In His first work of creation, He gave me myself. But in His new creation, He gave me Himself. By that gift of redemption, He also gave me back myself, restoring me to the self that I had lost. Given and regiven, I owe myself to Him twice over.
- Bernard of Clairvaux

Terjemahan bebas: Dalam karya penciptaan yang semula, Ia memberikan padaku diriku. Namun dalam penciptaan baru, Ia memberikan padaku diri-Nya. Dengan karunia penebusan itu, Ia pun memberikan diriku kembali, mengembalikanku pada diriku yg telah pernah hilang. Sudah diberi, diberi lagi, aku berhutang padanya dua kali.