Showing posts with label translation. Show all posts
Showing posts with label translation. Show all posts

Thursday, July 12, 2012

I Owe Myself to Him Twice Over

In His first work of creation, He gave me myself. But in His new creation, He gave me Himself. By that gift of redemption, He also gave me back myself, restoring me to the self that I had lost. Given and regiven, I owe myself to Him twice over.
- Bernard of Clairvaux

Terjemahan bebas: Dalam karya penciptaan yang semula, Ia memberikan padaku diriku. Namun dalam penciptaan baru, Ia memberikan padaku diri-Nya. Dengan karunia penebusan itu, Ia pun memberikan diriku kembali, mengembalikanku pada diriku yg telah pernah hilang. Sudah diberi, diberi lagi, aku berhutang padanya dua kali.

Thursday, July 29, 2010

Mengapa para pendeta tidak mencari bantuan

Saya baru membaca catatan singkat Kenneth Maresco, “Accountable Pastors/Accountable Churches,” yang disampaikannya dalam 2005 Sovereign Grace Pastor’s Conference, dari sebuah blog yang mempromosikan church planting. Dalam post itu dikatakan ada 30 alasan mengapa para pendeta tidak mau mencari bantuan bagi masalah-masalah dalam kehidupan mereka. Wah ternyata banyak juga ya. Catatan itu telah saya terjemahkan secara bebas. Selamat merenung!
  1. Saya ngga perlu bantuan untuk yang satu ini; saya tahu kok apa yang harus saya lakukan.
  2. Apakah saya memang perlu bantuan? Saya kan pendeta.
  3. Saya akan mengakuinya kalau saya sudah benar-benar bertobat.
  4. Saya punya Alkitab, saya punya Roh Kudus, saya harus bisa mengatasinya sendiri.
  5. Yang kulakukan bukan dosa “besar,” maka itu juga bukan urusan besar.
  6. Yang kulakukan bukan dosa yang berbahaya, cuma sekali-sekali.
  7. Mereka hanya akan memberitahukan apa yang sebenarnya saya sudah tahu.
  8. Saya bisa berubah sendiri. Saya ngga benar-benar perlu bantuan orang lain.
  9. Ini sesuatu yang saya masih usahakan.
  10. Saya sedang mengalami kemajuan jadi saya ngga perlu menceritakan hal ini.
  11. Saya hanya perlu melaksanakan nasihat yang telah saya terima.
  12. Kalau saya bisa lolos itu bukan kemampuan saya, tapi mungkin juga yang saya lakukan itu bukan suatu dosa.
  13. Saya sudah melihat masalah hati saya secara jelas.
  14. Kan orang lain sudah tahu masalah ini, buat apa saya mengakuinya lagi?
  15. Saya sudah bertobat dan berubah.
  16. Saya sudah mengakui dosa saya pada Allah dan istri saya.
  17. Saya telah mengakui dosa saya pada orang yang mengenal saya dengan baik.
  18. Ada masalah lain dalam kelompok itu yang lebih besar daripada ini.
  19. Mereka ngga benar-benar mengerti pergumulan saya.
  20. Saya punya banyak tanggung jawab. Saya tidak mau buang-buang waktu dan tenaga. Saya harus menjadi penatalayan yang baik atas waktu dan tugas-tugas yang dipercayakan pada saya.
  21. Mereka tidak bisa bantu saya. Ini terlalu berat buat mereka.
  22. Saya tidak yakin apakah saya bisa mempercayakan informasi ini pada mereka.
  23. Mereka ngga akan menghormati saya lagi kalau saya menceritakan hal ini.
  24. Mereka sibuk, terlalu sibuk untuk mendengarkan pengakuan saya sekarang.
  25. Saya tidak tahu apakah saya memang bisa berubah.
  26. Saya tidak percaya teman-teman dalam kelompok saya juga kuat dalam hal ini. Jangan-jangan mereka sama saja dengan saya.
  27. Mereka ngga bakal menanggapi dengan baik kalau saya menyampaikan pengakuan dosa yang sama lagi.
  28. Apa yang akan terjadi kalau mereka sampai tahu hal ini?
  29. Saya ingin punya reputasi hidup baik. Saya ingin orang berpikir bahwa saya bisa mengatasi semua masalah kehidupan dan mengenali dosa-dosa saya sendiri.
  30. Saya tidak mau kelihatan buruk, saya tidak mau kelihatan buruk, saya tidak mau kelihatan buruk.

Wednesday, July 28, 2010

Mengenali penyembahan berhala dalam hasrat

Tulisan berikut ini saya terjemahkan secara bebas dari tulisan John Piper berjudul Discerning idolatry in desire: 12 ways to recognize the rise of covetousness. Link kepada tulisan tersebut bisa anda dapatkan di sumber post ini.

Mengenali penyembahan berhala dalam hasrat
12 jalan mengenali terbitnya dosa mengingini
Oleh John Piper

Kebanyakan kita menyadari bahwa menikmati sesuatu selain Allah, dari hadiah terbaik hingga kesenangan liar, dapat menjadi penyembahan berhala. Paulus berkata dalam Kolose 3:5, "Keinginan kuat untuk memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain (covetousness) merupakan penyembahan berhala."

Covetousness berarti menghasratkan sesuatu selain Allah dengan cara yang salah. Tapi apa arti "dengan jalan yang salah"?

Alasan mengapa ini penting mencakup dua: vertikal dan horisontal. Penyembahan berhala akan menghancurkan hubungan kita dengan Allah. Dan ia akan menghancurkan hubungan kita dengan orang lain.

Semua masalah relasional manusia - dari pernikahan dan keluarga hingga pertemanan - berakar dalam aneka ragam bentuk penyembahan berhala, yakni, mengingini hal-hal selain Allah dengan jalan yang salah.

Ini usaha saya untuk berpikir secara alkitabiah menjelaskan apa yang dimaksud dengan jalan-jalan yang salah itu. Apa yang membuat sebuah kenikmatan bersifat pemberhalaan? Apa yang menyebabkan sebuah hasrat menjadi covetousness, yang adalah penyembahan berhala?

1. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia dilarang oleh Allah. Sebagai misal, perzinahan, percabulan, pencurian, dan kebohongan dilarang oleh Allah. Beberapa orang pada saat-saat tertentu merasa perbuatan-perbuatan ini mendatangkan kesenangan, kalau tidak, tentu kita tak akan melakukannya. Tak seorang pun berdosa karena kewajiban. Namun kesenangan yang demikian merupakan tanda penyembahan berhala.

2. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia tidak sesuai dengan nilai dari apa yang dihasratkan. Hasrat besar akan hal-hal yang tak bernilai besar merupakan tanda bahwa kita mulai menjadikan hal-hal tersebut berhala.

3. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia tidak dipenuhi dengan ucapan syukur. Ketika kenikmatan kita akan sesuatu cenderung membuat kita tidak berpikir mengenai Allah, ia bergerak menuju penyembahan berhala. Namun jika kenikmatan itu membangkitkan perasaan bersyukur pada Allah, kita terlindung dari penyembahan berhala. Perasaan bersyukur bahwa kita tak pantas menerima pemberian ini atau kenikmatan ini, namun bisa memperolehnya secara gratis dari anugerah Allah, adalah bukti bahwa penyembahan berhala sedang dikendalikan.

4. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia tidak melihat dalam pemberian Allah bahwa Allah sendiri yang seharusnya lebih dihasratkan daripada pemberian itu. Jika pemberian itu tidak menghidupkan perasaan bahwa Allah, Sang Pemberi, lebih baik daripada pemberian-Nya, ia menjadi berhala.

5. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia mulai terasa sebagai hak, dan kesukaan kita menjadi suatu tuntutan. Bisa jadi suatu kesukaan merupakan hak. Bisa jadi orang lain harus memberikan anda kesukaan ini. Boleh jadi benar memberitahukan mereka hal ini. Namun ketika semua ini naik sampai ke level tuntutan-tuntutan yang disertai kemarahan, penyembahan berhala pun terbit.

6. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia menarik kita jauh dari tugas-tugas panggilan kita. Ketika kita melulu menghabiskan waktu mengejar sebuah kenikmatan, mengetahui bahwa hal-hal lain, atau orang lain, harus kita perhatikan, kita sedang bergerak menuju penyembahan berhala.

7. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia membangkitkan perasaan sombong bahwa kita bisa mengalami kesukaan ini sementara orang lain tidak. Ini khususnya benar berkenaan dengan kesukaan dalam hal-hal religius, seperti doa, membaca alkitab, dan pelayanan. Menikmati hal-hal yang kudus itu sangat baik. Tapi merasa sombong bahwa kita bisa itu bersifat pemberhalaan.

8. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia cuek atau tak peduli pada kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan orang lain. Kenikmatan yang suci peka akan kebutuhan-kebutuhan orang lain dan bisa meninggalkan kesenangan yang baik untuk sementara waktu demi membantu orang lain memperolehnya. Seseorang mungkin meninggalkan doa pribadinya untuk menjadi jawaban bagi doa orang lain.

9. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia tak menginginkan Kristus dibesarkan sebagai kenikmatan tertinggi melalui kenikmatan itu. Menikmati apapun kecuali Kristus (seperti pemberian-pemberian-Nya yang baik) membawa risiko tak terelakkan membesarkan pemberian di atas Sang Pemberi. Satu bukti bahwa penyembahan berhala tak sedang terjadi adalah hasrat yang jujur bahwa ini tak terjadi.

10. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika ia tak mengerjakan kemampuan lebih dalam akan kesukaan yang suci. Kita masih orang berdosa. Kita menyembah berhala jika kita puas dengan dosa. Maka kita menginginkan transformasi. Beberapa kenikmatan menciutkan kapasitas kita akan sukacita yang kudus. Lainnya memperbesar kapasitas tersebut. Beberapa memperbesar atau memperkecil tergantung dari bagaimana kita berpikir mengenai mereka. Ketika kita tak peduli apakah sebuah kenikmatan menjadikan kita lebih suci atau tidak, kita sedang bergerak menuju penyembahan berhala.

11. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika kehilangannya menghancurkan kepercayaan kita pada kebaikan Allah. Ada kedukaan karena kehilangan yang tidak bersifat pemberhalaan. Namun ketika kedukaan mengancam keyakinan kita pada Allah, ini menandakan bahwa kehilangan hal itu menjadi sebuah berhala.

12. Kenikmatan menjadi penyembahan berhala ketika kehilangannya melumpuhkan kita secara emosional sehingga kita tak bisa berelasi dengan kasih dengan orang lain. Ini merupakan dampak horisontal dari kehilangan keyakinan pada Allah. Sekali lagi: kedukaan besar bukanlah tanda pasti penyembahan berhala. Yesus juga memiliki dukacita besar. Namun ketika hasrat kita disangkali, lalu dampaknya adalah ketidakmampuan emosional untuk melakukan apa yang Allah kehendaki agar kita lakukan, tanda-tanda peringatan terhadap penyembahan berhala sedang berkedip.

Bagi diri saya sendiri dan bagimu, saya mendoakan peringatan dari 1 Yohanes 5:21, "Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala."

Sumber: Desiring God

Monday, July 19, 2010

Jangan sia-siakan kanker anda


Diterjemahkan dari http://www.desiringgod.org/ResourceLibrary/TasteAndSee/ByDate/2006/1776_Dont_Waste_Your_Cancer/

Tulisan John Piper ini originally didampingi oleh tulisan atau komentar David Powlison. Saya tidak menerjemahkan bagian Powlison, hanya Piper. Selamat membaca!

Jangan Sia-siakan Kanker Anda oleh John Piper

[John Piper didiagnosa mendapat kanker prostat pada 11 Januari 2006. Ia menjalani operasi dengan sukses pada 14 Februari 2006.]

Saya menulis ini menjelang operasi prostat. Saya percaya pada kuasa Allah untuk menyembuhkan - baik dengan mukjizat maupun dengan pengobatan. Saya percaya mendoakan untuk kedua macam penyembuhan itu benar dan baik. Kanker tidak disia-siakan ketika ia disembuhkan oleh Allah. Ia memperoleh kemuliaan dan itulah sebab mengapa kanker ada. Jadi tidak berdoa untuk kesembuhan bisa menyia-nyikan kanker anda. Akan tetapi kesembuhan bukan rencana Allah bagi setiap orang. Dan ada banyak cara lain untuk menyia-nyiakan kanker. Saya berdoa untuk diri saya sendiri juga bagi anda agar kita tidak menyia-nyiakan penderitaan ini.

Anda akan menyia-nyiakan kanker anda, jika …

1. Anda tidak percaya bahwa itu adalah rancangan Allah bagi anda.
Tidaklah cukup mengatakan bahwa Allah hanya memakai kanker kita tetapi tidak merancangnya. Apapun yang Allah izinkan, Ia izinkan dengan suatu alasan. Dan alasan itu adalah rancangannya. Jika Allah mengetahui bahwa perkembangan molekuler akan menjadi kanker, ia bisa menghentikannya atau tidak. Jika ia tidak menghentikannya, Ia pasti mempunyai maksud tertentu. Oleh karena Ia bijaksana tanpa batas, kita dapat menyebut maksud ini sebuah rancangan. Setan itu riil, nyata, dan menyebabkan banyak kesenangan dan penderitaan pula. Kendati begitu, ia bukanlah yang tertinggi. Maka, ketika ia menyerang Ayub dengan barah yang busuk (Ayub 2:7), Ayub menganggapnya sebagai penderitaan yang berasal dari Allah dan penulis kitab ini menyetujui, “Mereka … menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan Tuhan kepadanya” (Ayub 42:11). Jika kita tidak percaya bahwa kanker kita dirancang oleh Allah bagi kita, maka kita akan menyia-nyiakannya.

2. Anda percaya itu kutukan dan bukan kasih karunia.
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1). “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13). “Tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel” (Bilangan 23:23). “Tuhan Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela” (Mazmur 84:12).

3. Anda mencari penghiburan dari perkiraan-perkiraan anda ketimbang dari Allah.
Rancangan Allah dengan kanker kita tidak untuk melatih kita membuat perhitungan rasionalistik mengenai apa yang mungkin terjadi. Dunia memperoleh penghiburan dari perkiraan-perkiraan mereka sendiri. Tidak begitu dengan Kristen. Sebagian menghitung jumlah kereta perang mereka (berapa persen bisa bertahan hidup) dan sebagian lain menghitung jumlah kuda mereka (efek samping dari pengobatan), namun kita percaya dalam nama Tuhan, Allah kita (Mazmur 20:7). Rancangan Allah jelas dari 2 Korintus 1:9, “Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, melainkan hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Tujuan Allah dengan kanker kita (di antara ribuan hal-hal baik lainnya) adalah untuk menyingkirkan hal-hal yang selama ini menopang hati kita agar kita bisa bergantung sepenuhnya pada-Nya.

4. Anda menolak untuk berpikir tentang kematian.
Kita semua akan mati, jika Yesus menunda kedatangan-Nya kembali. Tidak mau berpikir tentang apa yang akan terjadi kelak ketika kita meninggalkan hidup ini dan berjumpa dengan Allah adalah kebodohan. Pengkhotbah 7:2 berkata, “Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.” Bagaimana kita dapat memperhatikannya jika kita tidak bersedia memikirkannya? Mazmur 90:12 berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Menghitung hari-hari berarti memikirkan tentang betapa sedikit hari-hari itu dan bahwa mereka akan berakhir. Bagaimana kita bisa memperoleh hati yang bijaksana jika kita menolak memikirkan hal itu? Sungguh sia-sia, jika kita tidak berpikir mengenai kematian.

5. Anda berpikir bahwa “mengalahkan” kanker berarti bertahan hidup dan bukan mencintai Kristus.
Rancangan-rancangan Allah dan setan dengan kanker kita tidaklah sama. Setan merancang untuk menghancurkan kasih kita bagi Kristus. Allah merancang untuk memperdalam kasih kita bagi Kristus. Kanker tidak menang jika kita mati. Ia menang jika kita gagal mencintai Kristus. Rancangan Allah adalah agar kita berhenti menyusu pada dunia dan berpesta dalam kecukupan Kristus. Rancangannya dimaksud untuk membantu kita dapat merasa dan berkata, “segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya.” Dan untuk mengetahui bahwa oleh karena itu, “hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 3:8; 1:21).

6. Anda menggunakan waktu terlalu banyak untuk membaca mengenai kanker dan tidak cukup waktu untuk membaca mengenai Allah.
Tidak salah untuk mengetahui tentang kanker. Ketidaktahuan jelas bukan kebajikan. Kendati begitu, ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak dan kekurangan gairah untuk mengenal Allah lebih dalam adalah gejala ketidakpercayaan. Kanker dimaksud untuk mengingatkan kita akan realitas Allah. Kanker dimaksud untuk menumbuhkan minat dan perjuangan yang terdapat dalam ajakan, “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan” (Hosea 6:3). Kanker dimaksud untuk mengingatkan kita akan kebenaran Daniel 11:32, “Umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” Kanker dimaksud untuk menjadikan kita seperti pohon beringin yang kokoh dan takkan goyah, “Yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:2-3). Alangkah sia-sia kanker kita jika kita membaca tentang kanker siang dan malam dan bukan tentang Allah.

7. Anda tenggelam dalam kesendirian alih-alih memperdalam hubungan anda dengan afeksi yang jelas.
Ketika Epafroditus membawa oleh-oleh dari gereja Filipi kepada Paulus ia menjadi sakit dan hampir mati. Paulus memberitahu jemaat Filipi, “Ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit” (Filipi 2:26). Sungguh suatu respon yang luar biasa! Tidak dikatakan mereka tertekan karena ia sakit, tapi bahwa ia tertekan karena mereka mendengar ia sakit. Itulah macam hati yang Allah harapkan dapat tercipta dengan kanker: sebuah hati yang amat peduli dan penuh kasih sayang bagi orang lain. Jangan sia-siakan kanker kita dengan menarik diri dari orang lain.

8. Anda berdukacita seperti mereka yang tidak berpengharapan.
Paulus menggunakan kata-kata ini dalam kaitannya dengan mereka yang kehilangan orang-orang tercinta: “Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.” (1 Tesalonika 4:13). Ada dukacita atas kematian. Bahkan pada orang percaya yang mati, ada kehilangan yang temporer - kehilangan tubuh, kehilangan orang yang dikasihi, dan kehilangan pelayanan di bumi. Namun kedukaan tersebut berbeda - ia dipenuhi dengan harapan. “Terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korintus 5:8). Jangan sia-siakan kanker kita dengan berdukacita seperti mereka yang tidak memiliki harapan ini.

9. Anda memperlakukan dosa tanpa keseriusan seperti sebelumnya.
Apakah kita masih tertarik pada dosa-dosa seperti sebelum kita mengalami kanker? Jika demikian, kita menyia-nyiakan kanker kita. Kanker dirancang untuk menghancurkan selera untuk berbuat dosa. Keangkuhan, keserakahan, nafsu birahi, kebencian, dendam, ketidaksabaran, kemalasan, kegemaran menunda – semua ini adalah musuh yang hendak dilawan oleh kanker. Jangan hanya berpikir untuk berperang melawan kanker. Berpikir juga untuk berperang bersama kanker. Semua yang telah disebutkan di atas adalah musuh yang lebih jahat daripada kanker. Jangan sia-siakan kekuatan kanker untuk mengalahkan musuh-musuh ini. Biarlah kehadiran kekekalan membuat dosa-dosa yang dilakukan dalam waktu nampak tak berarti. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25).

10. Anda gagal memakainya sebagai sarana untuk bersaksi tentang kebenaran dan kemuliaan Kristus.
Orang-orang Kristen tak pernah berada di suatu tempat oleh karena kebetulan belaka. Ada alasan-alasan mengapa kita bisa berada dalam situasi dan kondisi tertentu. Pertimbangkan apa yang Yesus katakan mengenai keadaan yang menyakitkan dan tak direncanakan ini: “Kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi” (Lukas 21:12-13). Begitu pula dengan kanker. Ini akan menjadi kesempatan untuk bersaksi. Kristus layak tiada taranya. Inilah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa ia layak lebih daripada kehidupan. Jangan sia-siakan!