Tulisan singkat ini saya buat setelah menyaksikan foto-foto kebaktian funeral Christina Mandang di STTJ.
Minggu lalu dalam khotbah saya menceritakan sepotong kehidupan Henry Martin (1781-1812), seorang misionari yang melayani di India bekerja sama dengan William Carey. Henry, seperti kita, pernah mengalami pergumulan yang berat dalam pelayanan. Ia pernah merasa begitu enggan dan susah hati untuk pergi bagi Tuhan. Tubuh yang sakit-sakitan hanya menambah berat beban bagi langkah-langkahnya. Di atas semua itu, ia juga pernah merasa patah hati.
Pacarnya, Linda, yang dinanti-nanti, tidak jua membalas surat sampai 15 bulan. Giliran membalas, isinya adalah sebuah penolakkan. Dengan fasilitas postal yang minimal ala ’jadoel’ (jaman doeloe), mereka berjuang memelihara cinta jarak jauh, Inggris-India, agar tetap menyala. 5 tahun lamanya mereka berharap suatu hari keadaan dapat berubah. Namun keadaan tak berubah, dan surat terakhir yang ia tulis buat Linda, yang tertinggal bagi kita, ditulisnya 2 bulan sebelum ia meninggal. Henry tak sempat lagi melihat pacarnya di bumi. Akan tetapi, kematian nampaknya bukan apa yang paling ia takuti. Menemui pacarnya juga bukan apa yang paling ia inginkan dalam hidup.
Kerinduannya yang terdalam ialah memperoleh Kristus, karena baginya, memperoleh Kristus merupakan nilai yang tak dapat ditandingi dengan apapun di dunia (baca Filipi 3:7-11).
Bagian akhir dari isi suratnya benar-benar menggugah dan mengiang terus dalam benak saya sampai saat ini.
“Whether life or death be mine, may Christ be magnified in me! If he has work for me to do, I cannot die.” // Baik hidup maupun mati, kiranya Kristus diagungkan dalamku! Jika Ia masih mempunyai pekerjaan untuk kutunaikan, aku takkan mati.
Dengan kata lain, jika aku masih hidup berarti Tuhan masih mempunyai pekerjaan untuk kutunaikan. Tugas Henry Martin sudah tunai, meski ia baru 31 tahun. Pekerjaan Christina Mandang baru selesai beberapa minggu lalu, di usianya yang ke-38. Kita yang masih bernafas dan bertenaga, apakah kita masih mengerjakan tugas panggilan kita dengan setia?
Monday, July 19, 2010
Menemukan ketenangan
Tulisan ini saya peroleh dari blog women’s ministry di Calvary Church. Penulis mengingatkan saya bagaimana di tengah dunia kerja yang mendesak kita untuk menjadi go-getters, kita masih bisa menemukan ketenangan dan rasa aman hanya dalam Tuhan, seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 62:5. Bagaimana ‘finding rest’ kita lihat sebagai sebuah ‘achievement’? Selamat membaca!
Wednesday, July 14, 2010
Becoming Dependent on God: Finding Identity apart from Work
Karen DeVries
“Find rest, O my soul, in God alone.” (Psalm 62:5)
“I teach Kindergarten, but I used to work for General Electric” is the answer I learned to give to the “What do you do?” question. Being connected to a corporation seemed more intriguing than being a teacher. My GE experience allowed me to tell impressive travel stories and reveal my worldly experience. A few years later I had to resign from my teaching job due to family illnesses. But I still clung to my work-related identity. When asked, “What do you do?” I would answer, “I used to be a Kindergarten teacher.” I still believed people were looking for the job answer.
I was raised to be a working girl with hopes of great achievement. I worked hard to earn high grades so I could get into a good college, get a good job, get promoted, get a house, get a godly husband, go to a good church, raise gifted children, connect with successful people. Go, go, get, get.
The words “Find rest, O my soul, in God alone” (Psalm 62:5) did not make sense to me until I was absolutely exhausted. I didn't think of “finding rest” as an achievement.
When I had to quit my job, I felt obligated to invest my time in other worthy projects. After years of pursuing one goal and then another, that was the only life I knew. I compared myself to other women and reasoned that it was best to stay busy and keep reaching for goals. That’s what everyone else did. Don't change behavior, just change treadmills.
We fail to realize how intertwined our identity is with our job, our tasks, or what we do for loved ones.
Leaving or losing a job, or facing any situation that involves loss, brings with it the compelling question: “What do I do now?”
There is no answer because God is more interested in who we are than in what we do.
Ultimately, we are daughters of the Creator of the universe. We forget this when we accept that our identity is defined by the tasks we do. We have a Perfect Father who loves us because we are His children. He's not impressed with our busyness or our societal success. He delights in our being.
So who am I without the identity of my job?
For me, finding my true identity means redefining success. Success is not receiving accolades from others for how much I accomplish. Success is finding the specific path that God intends for me and being satisfied with accomplishments that are not visible or measurable. My journey is unique. It is for God to determine, and for me to follow, without comparing myself to others, as Galatians 6:4–5 instructs us.
I still tend to dodge the “What do you do?” question by sharing an interesting story. But I am becoming more comfortable with quietness and stillness. I am seeking to obey God in “being” over “doing.”
Do you find your identity in a job, a relationship, or a set of tasks? Do you measure your value by comparing yourself to others? If so, how does this keep you from becoming the person God designed you to be?
How do you answer the “What do you do?” question? How might you answer it in a way that describes who you are becoming?
We'd love to hear your story.
A conversation with Eugene Peterson
Eugene Peterson melayani sebagai pendeta Christ Our King, Bel Air, Maryland, selama 29 tahun. Sayang, tidak banyak video Eugene yang bisa diakses di youtube. Ini salah satunya.
Jangan sia-siakan kanker anda
Diterjemahkan dari http://www.desiringgod.org
Tulisan John Piper ini originally didampingi oleh tulisan atau komentar David Powlison. Saya tidak menerjemahkan bagian Powlison, hanya Piper. Selamat membaca!
Jangan Sia-siakan Kanker Anda oleh John Piper
[John Piper didiagnosa mendapat kanker prostat pada 11 Januari 2006. Ia menjalani operasi dengan sukses pada 14 Februari 2006.]
Saya menulis ini menjelang operasi prostat. Saya percaya pada kuasa Allah untuk menyembuhkan - baik dengan mukjizat maupun dengan pengobatan. Saya percaya mendoakan untuk kedua macam penyembuhan itu benar dan baik. Kanker tidak disia-siakan ketika ia disembuhkan oleh Allah. Ia memperoleh kemuliaan dan itulah sebab mengapa kanker ada. Jadi tidak berdoa untuk kesembuhan bisa menyia-nyikan kanker anda. Akan tetapi kesembuhan bukan rencana Allah bagi setiap orang. Dan ada banyak cara lain untuk menyia-nyiakan kanker. Saya berdoa untuk diri saya sendiri juga bagi anda agar kita tidak menyia-nyiakan penderitaan ini.
Anda akan menyia-nyiakan kanker anda, jika …
1. Anda tidak percaya bahwa itu adalah rancangan Allah bagi anda.
Tidaklah cukup mengatakan bahwa Allah hanya memakai kanker kita tetapi tidak merancangnya. Apapun yang Allah izinkan, Ia izinkan dengan suatu alasan. Dan alasan itu adalah rancangannya. Jika Allah mengetahui bahwa perkembangan molekuler akan menjadi kanker, ia bisa menghentikannya atau tidak. Jika ia tidak menghentikannya, Ia pasti mempunyai maksud tertentu. Oleh karena Ia bijaksana tanpa batas, kita dapat menyebut maksud ini sebuah rancangan. Setan itu riil, nyata, dan menyebabkan banyak kesenangan dan penderitaan pula. Kendati begitu, ia bukanlah yang tertinggi. Maka, ketika ia menyerang Ayub dengan barah yang busuk (Ayub 2:7), Ayub menganggapnya sebagai penderitaan yang berasal dari Allah dan penulis kitab ini menyetujui, “Mereka … menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan Tuhan kepadanya” (Ayub 42:11). Jika kita tidak percaya bahwa kanker kita dirancang oleh Allah bagi kita, maka kita akan menyia-nyiakannya.
2. Anda percaya itu kutukan dan bukan kasih karunia.
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1). “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13). “Tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel” (Bilangan 23:23). “Tuhan Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela” (Mazmur 84:12).
3. Anda mencari penghiburan dari perkiraan-perkiraan anda ketimbang dari Allah.
Rancangan Allah dengan kanker kita tidak untuk melatih kita membuat perhitungan rasionalistik mengenai apa yang mungkin terjadi. Dunia memperoleh penghiburan dari perkiraan-perkiraan mereka sendiri. Tidak begitu dengan Kristen. Sebagian menghitung jumlah kereta perang mereka (berapa persen bisa bertahan hidup) dan sebagian lain menghitung jumlah kuda mereka (efek samping dari pengobatan), namun kita percaya dalam nama Tuhan, Allah kita (Mazmur 20:7). Rancangan Allah jelas dari 2 Korintus 1:9, “Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, melainkan hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Tujuan Allah dengan kanker kita (di antara ribuan hal-hal baik lainnya) adalah untuk menyingkirkan hal-hal yang selama ini menopang hati kita agar kita bisa bergantung sepenuhnya pada-Nya.
4. Anda menolak untuk berpikir tentang kematian.
Kita semua akan mati, jika Yesus menunda kedatangan-Nya kembali. Tidak mau berpikir tentang apa yang akan terjadi kelak ketika kita meninggalkan hidup ini dan berjumpa dengan Allah adalah kebodohan. Pengkhotbah 7:2 berkata, “Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.” Bagaimana kita dapat memperhatikannya jika kita tidak bersedia memikirkannya? Mazmur 90:12 berkata, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Menghitung hari-hari berarti memikirkan tentang betapa sedikit hari-hari itu dan bahwa mereka akan berakhir. Bagaimana kita bisa memperoleh hati yang bijaksana jika kita menolak memikirkan hal itu? Sungguh sia-sia, jika kita tidak berpikir mengenai kematian.
5. Anda berpikir bahwa “mengalahkan” kanker berarti bertahan hidup dan bukan mencintai Kristus.
Rancangan-rancangan Allah dan setan dengan kanker kita tidaklah sama. Setan merancang untuk menghancurkan kasih kita bagi Kristus. Allah merancang untuk memperdalam kasih kita bagi Kristus. Kanker tidak menang jika kita mati. Ia menang jika kita gagal mencintai Kristus. Rancangan Allah adalah agar kita berhenti menyusu pada dunia dan berpesta dalam kecukupan Kristus. Rancangannya dimaksud untuk membantu kita dapat merasa dan berkata, “segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya.” Dan untuk mengetahui bahwa oleh karena itu, “hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 3:8; 1:21).
6. Anda menggunakan waktu terlalu banyak untuk membaca mengenai kanker dan tidak cukup waktu untuk membaca mengenai Allah.
Tidak salah untuk mengetahui tentang kanker. Ketidaktahuan jelas bukan kebajikan. Kendati begitu, ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak dan kekurangan gairah untuk mengenal Allah lebih dalam adalah gejala ketidakpercayaan. Kanker dimaksud untuk mengingatkan kita akan realitas Allah. Kanker dimaksud untuk menumbuhkan minat dan perjuangan yang terdapat dalam ajakan, “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan” (Hosea 6:3). Kanker dimaksud untuk mengingatkan kita akan kebenaran Daniel 11:32, “Umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” Kanker dimaksud untuk menjadikan kita seperti pohon beringin yang kokoh dan takkan goyah, “Yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:2-3). Alangkah sia-sia kanker kita jika kita membaca tentang kanker siang dan malam dan bukan tentang Allah.
7. Anda tenggelam dalam kesendirian alih-alih memperdalam hubungan anda dengan afeksi yang jelas.
Ketika Epafroditus membawa oleh-oleh dari gereja Filipi kepada Paulus ia menjadi sakit dan hampir mati. Paulus memberitahu jemaat Filipi, “Ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit” (Filipi 2:26). Sungguh suatu respon yang luar biasa! Tidak dikatakan mereka tertekan karena ia sakit, tapi bahwa ia tertekan karena mereka mendengar ia sakit. Itulah macam hati yang Allah harapkan dapat tercipta dengan kanker: sebuah hati yang amat peduli dan penuh kasih sayang bagi orang lain. Jangan sia-siakan kanker kita dengan menarik diri dari orang lain.
8. Anda berdukacita seperti mereka yang tidak berpengharapan.
Paulus menggunakan kata-kata ini dalam kaitannya dengan mereka yang kehilangan orang-orang tercinta: “Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.” (1 Tesalonika 4:13). Ada dukacita atas kematian. Bahkan pada orang percaya yang mati, ada kehilangan yang temporer - kehilangan tubuh, kehilangan orang yang dikasihi, dan kehilangan pelayanan di bumi. Namun kedukaan tersebut berbeda - ia dipenuhi dengan harapan. “Terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korintus 5:8). Jangan sia-siakan kanker kita dengan berdukacita seperti mereka yang tidak memiliki harapan ini.
9. Anda memperlakukan dosa tanpa keseriusan seperti sebelumnya.
Apakah kita masih tertarik pada dosa-dosa seperti sebelum kita mengalami kanker? Jika demikian, kita menyia-nyiakan kanker kita. Kanker dirancang untuk menghancurkan selera untuk berbuat dosa. Keangkuhan, keserakahan, nafsu birahi, kebencian, dendam, ketidaksabaran, kemalasan, kegemaran menunda – semua ini adalah musuh yang hendak dilawan oleh kanker. Jangan hanya berpikir untuk berperang melawan kanker. Berpikir juga untuk berperang bersama kanker. Semua yang telah disebutkan di atas adalah musuh yang lebih jahat daripada kanker. Jangan sia-siakan kekuatan kanker untuk mengalahkan musuh-musuh ini. Biarlah kehadiran kekekalan membuat dosa-dosa yang dilakukan dalam waktu nampak tak berarti. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25).
10. Anda gagal memakainya sebagai sarana untuk bersaksi tentang kebenaran dan kemuliaan Kristus.
Orang-orang Kristen tak pernah berada di suatu tempat oleh karena kebetulan belaka. Ada alasan-alasan mengapa kita bisa berada dalam situasi dan kondisi tertentu. Pertimbangkan apa yang Yesus katakan mengenai keadaan yang menyakitkan dan tak direncanakan ini: “Kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi” (Lukas 21:12-13). Begitu pula dengan kanker. Ini akan menjadi kesempatan untuk bersaksi. Kristus layak tiada taranya. Inilah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa ia layak lebih daripada kehidupan. Jangan sia-siakan!
Meja perjamuan atau mezbah?
Kemarin pagi saya berkesempatan untuk memimpin perjamuan kudus. Maklumlah ini pertama kali bagi saya semenjak ditahbiskan, jadi masih rada kaku. Tapi saya bersyukur semua dapat berjalan dengan lancar dan cukup khusyuk.
Saya teringat kira-kira satu minggu sebelumnya saya dan para pengurus sudah mulai mendiskusikan apa saja yang perlu dipersiapkan. Lalu kami tiba pada sebuah pertanyaan teknis tapi lumayan serius: pakai meja apa? Berhubung ruang di kebaktian pagi tidak begitu besar, kita enggak bisa sembarang mengambil meja. Kalau kepanjangan, bikin sesak. Kalau kekecilan, enggak muat.
Akhirnya, pagi-pagi sebuah meja berukuran medium sudah nongkrong di sisi mimbar. “Oh, ini pas,” batin saya. Meja itu lalu dibungkus dengan taplak berwarna putih polos. Petugas kebaktian perlahan mengusung masuk piring roti dan cawan air anggur, diletakkannya mereka di atas meja dengan penataan yang anggun.
Saya termenung. Bagaimana seharusnya kita memandang meja perjamuan Tuhan? Apakah ini sebuah meja perjamuan atau sebuah mezbah? Apa perbedaannya?
Meja perjamuan lebih terjangkau, mudah dipahami buat kita. Di meja perjamuan ada makanan dan minuman serta percakapan yang santun. Kita dapati sendok, garpu, atau pisau saling beradu sehingga menimbulkan dentingan yang hanya menambah semarak suasana perjamuan. Tuhan dapat dibayangkan tengah duduk di antara kita, begitu dekat, intim penuh penerimaan. Tak pelak lagi, kita lebih suka ide atau gambaran ini.
Tapi mezbah? Mezbah adalah tempat pengurbanan. Kita tak begitu familiar dengannya. Di sanalah seorang imam menyayat leher seekor domba atau sapi yang innocent. Ada suara jeritan kesakitan. Ada darah segar yang muncrat membasahi mezbah. Tema pembicaraan di seputar mezbah adalah dosa dan kematian. Tuhan mahasuci tak dapat berkompromi dengan dosa; Ia murka sekaligus berduka.
Pada Perjamuan Kudus, apakah kita menghampiri meja perjamuan atau mezbah? Jawabnya ialah kedua-duanya.
Meja perjamuan takkan tergelar tanpa mezbah. Kita tak boleh menerima yang satu tetapi menampik yang lain. Dosa dan kematian itu riil. Mereka tak boleh dibiarkan tak tersentuh. Mereka mesti dihadapi. Ya, di mezbah. Di salib. Karena justru dengan kematian Tuhan yang menggantikan, kita dapat menikmati persekutuan di meja perjamuan, bahkan the heavenly banquet di hari mendatang.
Pendeta William Willimon dalam Sunday Dinner kurang lebih menulis begini, “Kekristenan memberi penghiburan yang besar. Kendati begitu, ia tak dimulai dengan penghiburan; sebaliknya, ia diawali dengan kerelaan menanggung nyeri. Kita tak bisa meminta penghiburan sebelum kita berhadap-hadapan dengan salib. Salib mengingatkan kita bahwa Tuhan menang bukan melalui paksaan atau tangan besi, melainkan melalui pengurbanan diri.” Begitu juga semestinya dengan kita.
Saya teringat kira-kira satu minggu sebelumnya saya dan para pengurus sudah mulai mendiskusikan apa saja yang perlu dipersiapkan. Lalu kami tiba pada sebuah pertanyaan teknis tapi lumayan serius: pakai meja apa? Berhubung ruang di kebaktian pagi tidak begitu besar, kita enggak bisa sembarang mengambil meja. Kalau kepanjangan, bikin sesak. Kalau kekecilan, enggak muat.
Akhirnya, pagi-pagi sebuah meja berukuran medium sudah nongkrong di sisi mimbar. “Oh, ini pas,” batin saya. Meja itu lalu dibungkus dengan taplak berwarna putih polos. Petugas kebaktian perlahan mengusung masuk piring roti dan cawan air anggur, diletakkannya mereka di atas meja dengan penataan yang anggun.
Saya termenung. Bagaimana seharusnya kita memandang meja perjamuan Tuhan? Apakah ini sebuah meja perjamuan atau sebuah mezbah? Apa perbedaannya?
Meja perjamuan lebih terjangkau, mudah dipahami buat kita. Di meja perjamuan ada makanan dan minuman serta percakapan yang santun. Kita dapati sendok, garpu, atau pisau saling beradu sehingga menimbulkan dentingan yang hanya menambah semarak suasana perjamuan. Tuhan dapat dibayangkan tengah duduk di antara kita, begitu dekat, intim penuh penerimaan. Tak pelak lagi, kita lebih suka ide atau gambaran ini.
Tapi mezbah? Mezbah adalah tempat pengurbanan. Kita tak begitu familiar dengannya. Di sanalah seorang imam menyayat leher seekor domba atau sapi yang innocent. Ada suara jeritan kesakitan. Ada darah segar yang muncrat membasahi mezbah. Tema pembicaraan di seputar mezbah adalah dosa dan kematian. Tuhan mahasuci tak dapat berkompromi dengan dosa; Ia murka sekaligus berduka.
Pada Perjamuan Kudus, apakah kita menghampiri meja perjamuan atau mezbah? Jawabnya ialah kedua-duanya.
Meja perjamuan takkan tergelar tanpa mezbah. Kita tak boleh menerima yang satu tetapi menampik yang lain. Dosa dan kematian itu riil. Mereka tak boleh dibiarkan tak tersentuh. Mereka mesti dihadapi. Ya, di mezbah. Di salib. Karena justru dengan kematian Tuhan yang menggantikan, kita dapat menikmati persekutuan di meja perjamuan, bahkan the heavenly banquet di hari mendatang.
Pendeta William Willimon dalam Sunday Dinner kurang lebih menulis begini, “Kekristenan memberi penghiburan yang besar. Kendati begitu, ia tak dimulai dengan penghiburan; sebaliknya, ia diawali dengan kerelaan menanggung nyeri. Kita tak bisa meminta penghiburan sebelum kita berhadap-hadapan dengan salib. Salib mengingatkan kita bahwa Tuhan menang bukan melalui paksaan atau tangan besi, melainkan melalui pengurbanan diri.” Begitu juga semestinya dengan kita.
Giliran jaga
Ini tentang Mark lagi, putra saya yang berusia 21 bulan itu. Setiap kali saya mendapat giliran menjaga dia, ada saja ulahnya yang bikin gregetan. Awalnya ia bersahabat, mau duduk di pangkuan saya sembari menyeruput susu dalam botol. Tapi itu tak bertahan lama. Kira-kira 15-20 menit kemudian, ia sudah minta turun. Setelah diturunkan ia mulai menarik-narik tangan saya, menepak, mengguncang kursi, untuk mengajak saya bermain. “Papa, papa, papa, papa…” ia memanggil terus dengan volume suara yang makin lama makin keras. Kalau sedang banyak pekerjaan, terus terang saya malas meladeni. Saya memilih untuk membaca buku, browsing internet, membalas e-mail, mendengarkan kotbah, dan lain-lain. Tapi Mark bukan seorang anak yang mudah menyerah. Ia selalu punya cara untuk membuat saya berespon kepadanya. Pernah suatu kali, ia sedang bermain sendirian, dan saya tengah asyik bekerja. Saya kira ia akan baik-baik saja. Tapi sontak air susu berceceran di lantai. Bagaimana bisa terjadi? Enggak tahunya air susu yang disedotnya alih-alih ditelan, malah disembur dari mulut. Ceceran air susu itu selanjutnya disapu dengan tangan sehingga menyebar ke mana-mana. Maka spontan saya marah, “Aduh, ngapain kamu, Maaarrkkk!” Namun ia hanya memandang saya dengan tatapan tanpa rasa bersalah sama sekali. Ia pun masih bisa nyengir, seakan ia berkata, “Siapa suruh Papa cuekin saya, kan tadi sudah saya panggil?”
Saya mencoba memetik pelajaran spiritual dari pengalaman kecil ini. Belakangan saya memang sedang struggle dalam menemukan waktu berdoa, saat bisa ngobrol santai dengan Tuhan tapi tetap mendalam. Oh, saya rindu sekali. Saya bersyukur bahwa Tuhan yang saya kenal bukan papa yang super sibuk sehingga setiap kali memerlukannya saya harus memanggil-manggil dia dengan suara yang keras, atau menarik-narik tangannya yang kaku, menggoyang kursi kenyamanannya, atau bahkan menyembur air susu ke lantai. Tuhanku tak pernah berkata, “Agus, kamu main dulu sendiri yah, aku sedang banyak pekerjaan nih.” Terpujilah Tuhan! Ia tak pernah berbuat begitu pada saya, pada semua anak-Nya. Ia Tuhan yang penuh perhatian; Ia peka pada kebutuhan kita. Padahal urusan Tuhan ada sejagat banyaknya. Sayang, perhatian dan kesudian Tuhan yang luar biasa ini nampaknya masih enggak cukup membuat kita menyadari betapa precious momen kebersamaan dengan-Nya. Kita justru meremehkan. Kawan, jika boleh saya berpesan, ada waktunya untuk bekerja, dan itu baik. Tapi jangan abaikan waktu untuk berdoa dan berbakti pada Tuhan. Bagaimanapun, kita memerlukan keseimbangan hidup.
Sekarang, kalau saya ‘digangguin’ Mark, saya jadi malu sendiri. Itu artinya saya sudah tidak peka pada kebutuhannya. Saya lantas memperingatkan diri sendiri, “Gus, apa kamu lebih banyak urusan daripada Tuhan? Mbok ya giliran jagamu dilakukan dengan baik…”
Saya mencoba memetik pelajaran spiritual dari pengalaman kecil ini. Belakangan saya memang sedang struggle dalam menemukan waktu berdoa, saat bisa ngobrol santai dengan Tuhan tapi tetap mendalam. Oh, saya rindu sekali. Saya bersyukur bahwa Tuhan yang saya kenal bukan papa yang super sibuk sehingga setiap kali memerlukannya saya harus memanggil-manggil dia dengan suara yang keras, atau menarik-narik tangannya yang kaku, menggoyang kursi kenyamanannya, atau bahkan menyembur air susu ke lantai. Tuhanku tak pernah berkata, “Agus, kamu main dulu sendiri yah, aku sedang banyak pekerjaan nih.” Terpujilah Tuhan! Ia tak pernah berbuat begitu pada saya, pada semua anak-Nya. Ia Tuhan yang penuh perhatian; Ia peka pada kebutuhan kita. Padahal urusan Tuhan ada sejagat banyaknya. Sayang, perhatian dan kesudian Tuhan yang luar biasa ini nampaknya masih enggak cukup membuat kita menyadari betapa precious momen kebersamaan dengan-Nya. Kita justru meremehkan. Kawan, jika boleh saya berpesan, ada waktunya untuk bekerja, dan itu baik. Tapi jangan abaikan waktu untuk berdoa dan berbakti pada Tuhan. Bagaimanapun, kita memerlukan keseimbangan hidup.
Sekarang, kalau saya ‘digangguin’ Mark, saya jadi malu sendiri. Itu artinya saya sudah tidak peka pada kebutuhannya. Saya lantas memperingatkan diri sendiri, “Gus, apa kamu lebih banyak urusan daripada Tuhan? Mbok ya giliran jagamu dilakukan dengan baik…”
Tertangkap basah
Seorang tentara yang baru direkrut suatu hari diberikan tugas jaga pada pukul 2 pagi. Untuk sementara ia berhasil melaksanakan tugas dengan baik, tapi kira-kira 2 jam kemudian ia terlelap. Ketika ia terjaga, seorang pengawas telah berdiri tegap di hadapannya.
Menyadari betapa berat penalti bagi petugas jaga yang tertidur, pemuda cerdik ini tetap menundukkan kepalanya beberapa saat lagi. Lalu, dengan menatap ke langit dan dengan khusyuk, ia berkata, “A-a-a-min!” (sumber: bnet)
Saya jadi ingat pada orang-orang yang sepanjang penyampaian kotbah di gereja memejamkan mata mereka sambil manggut-manggut sesekali atau yang tertunduk saja entah mencari apa di bawah. Sempat saya berpikir untuk memergoki salah satu dari mereka, menepuk bahunya, atau berbuat apalah yang bisa membuatnya terjaga, dan salah tingkah. Tapi setelah membaca cerita ini, saya memutuskan untuk mengurungkan niat itu. Saya khawatir jika melakukannya, saya bisa dituduh mengganggu orang sedang berdoa. Dan itu tidak baik, apalagi saya seorang pastor…
Menyadari betapa berat penalti bagi petugas jaga yang tertidur, pemuda cerdik ini tetap menundukkan kepalanya beberapa saat lagi. Lalu, dengan menatap ke langit dan dengan khusyuk, ia berkata, “A-a-a-min!” (sumber: bnet)
Saya jadi ingat pada orang-orang yang sepanjang penyampaian kotbah di gereja memejamkan mata mereka sambil manggut-manggut sesekali atau yang tertunduk saja entah mencari apa di bawah. Sempat saya berpikir untuk memergoki salah satu dari mereka, menepuk bahunya, atau berbuat apalah yang bisa membuatnya terjaga, dan salah tingkah. Tapi setelah membaca cerita ini, saya memutuskan untuk mengurungkan niat itu. Saya khawatir jika melakukannya, saya bisa dituduh mengganggu orang sedang berdoa. Dan itu tidak baik, apalagi saya seorang pastor…
Kata orang, pendeta itu...
Kata orang kehidupan pendeta atau hamba Tuhan itu serba baik, mungkin hampir sempurna. Atau paling tidak berada di atas rata-rata. Namanya juga hamba Tuhan, ya kan? Di sini saya coba mendaftar apa saja ‘kata orang’ mengenai kehidupan pendeta atau hamba Tuhan itu. Komentar saya ada di bawahnya.
1. Pendeta itu wise.
Jika bijaksana yang Anda mengerti adalah tahu segala hal dan bisa menjawab pertanyaan apapun. Well, saya kira itu tidak benar. Kalau kebetulan hal yang ditanyakan padanya berada dalam wilayah expertise-nya, mungkin ia bisa menjawab dengan wise. Pendeta memang belajar teologi, doktrin-doktrin yang njelimet, Hebrew dan Greek, sejarah Gereja, filsafat, dan counseling. Tapi ilmu-ilmu dan pengetahuan tersebut tak lantas membuatnya bisa menjawab segala soal kehidupan. Pendeta seperti juga Anda bisa berbuat salah, bisa memberi nasihat yang tidak wise. Jadi, don’t overestimate pendeta, nanti kepalanya jadi besar tak beraturan. Bersikap wajar saja, cukuplah sudah.
2. Doa-doanya lebih didengar Tuhan.
Ah, ada-ada saja. Tentulah Tuhan mendengar doa setiap orang kepunyaan-Nya. Dan orang kepunyaan-Nya bukan hanya pendeta. Doa-doa pendeta juga bukan jaminan terkabulnya permintaan-permintaan. Tidak. Tuhan mengabulkan sebuah doa oleh karena permohonan itu sesuai dengan kehendak-Nya. Bukan karena itu didoakan oleh pendeta. Doa-doa Anda pun dapat dikabulkan oleh Tuhan.
3. Pendeta itu bebas masalah. Kalaupun ada masalah, ia selalu bisa menyelesaikannya dengan baik.
Apakah Anda kira pendeta itu bukan manusia? Dewa atau Malaikat? Di dunia ini mana ada orang yang bebas masalah. Dan karena pendeta adalah orang (syukurlah), ia pun tak bebas masalah. Pendeta itu orang berdosa. Ia masih perlu pengampunan, banyak belajar, dan dibentuk oleh Tuhan. Ia punya kelemahan sama seperti orang lain. Ia bisa menjadi kecewa, bisa putus harapan, bisa patah semangat dan sakit hati. Semua itu tak nampak, jika Anda tak mengenali pendeta Anda dengan baik. Karena itu, pesan saya, berusahalah untuk mengenalnya lebih dekat. Ia butuh seorang kawan yang tepercaya, sebab acapkali ia merasa tersendiri. Dan dalam kesendiriannya, ia lalu jadi delusional: merasa dirinya istimewa, suci, dan kukuh.
Tahukah Anda bahwa
- 1600 pendeta di Gereja-gereja US berhenti atau mengundurkan diri dari pekerjaan mereka setiap bulannya?
- Hampir 20 persen pendeta menderita stres atau burnout?
- 50 persen pendeta bercerai? (Sumber: James O. Davis, president of Global Pastors Network)
Dengan statistics ini, apakah Anda masih berpikir bahwa pendeta itu bebas masalah, dan kalaupun ada masalah, ia selalu bisa menyelesaikannya sendiri dengan baik?
4. Apa yang dikatakan pendeta dari mimbar, itulah yang ia lakukan dalam kehidupannya sehari-hari.
Saya berharap ini benar, dan sungguh terjadi, setidaknya dalam kehidupan saya sendiri. Sebagai pendeta saya mempergunakan banyak waktu untuk membaca buku dan mempersiapkan kotbah atau pendalaman Alkitab. Sebenarnya makin dalam saya menggali dan belajar, makin banyak pula pesan atau kebenaran yang buat saya sendiri sulit sekali untuk diterapkan. Tapi itu tak boleh jadi alasan saya untuk tak mengkotbahkannya. Nanti Majelis Jemaat bisa kelabakan mencari ganti saya. Maka, mau tak mau, suka tak suka, saya tetap maju berkotbah, menyampaikan pesan yang saya percaya Tuhan hendak bicarakan pada umat-Nya. Apakah dengan mengkotbahkannya berarti saya telah menghidupinya? Tidak. Pesan yang saya beritakan dari mimbar itu juga merupakan Firman Tuhan yang harus saya taati, gumuli, dan laksanakan dengan setia. Sampai sekarang saya masih jatuh bangun dalam melakukan Firman Tuhan, bahkan yang telah saya beritakan sendiri dari mimbar.
1. Pendeta itu wise.
Jika bijaksana yang Anda mengerti adalah tahu segala hal dan bisa menjawab pertanyaan apapun. Well, saya kira itu tidak benar. Kalau kebetulan hal yang ditanyakan padanya berada dalam wilayah expertise-nya, mungkin ia bisa menjawab dengan wise. Pendeta memang belajar teologi, doktrin-doktrin yang njelimet, Hebrew dan Greek, sejarah Gereja, filsafat, dan counseling. Tapi ilmu-ilmu dan pengetahuan tersebut tak lantas membuatnya bisa menjawab segala soal kehidupan. Pendeta seperti juga Anda bisa berbuat salah, bisa memberi nasihat yang tidak wise. Jadi, don’t overestimate pendeta, nanti kepalanya jadi besar tak beraturan. Bersikap wajar saja, cukuplah sudah.
2. Doa-doanya lebih didengar Tuhan.
Ah, ada-ada saja. Tentulah Tuhan mendengar doa setiap orang kepunyaan-Nya. Dan orang kepunyaan-Nya bukan hanya pendeta. Doa-doa pendeta juga bukan jaminan terkabulnya permintaan-permintaan. Tidak. Tuhan mengabulkan sebuah doa oleh karena permohonan itu sesuai dengan kehendak-Nya. Bukan karena itu didoakan oleh pendeta. Doa-doa Anda pun dapat dikabulkan oleh Tuhan.
3. Pendeta itu bebas masalah. Kalaupun ada masalah, ia selalu bisa menyelesaikannya dengan baik.
Apakah Anda kira pendeta itu bukan manusia? Dewa atau Malaikat? Di dunia ini mana ada orang yang bebas masalah. Dan karena pendeta adalah orang (syukurlah), ia pun tak bebas masalah. Pendeta itu orang berdosa. Ia masih perlu pengampunan, banyak belajar, dan dibentuk oleh Tuhan. Ia punya kelemahan sama seperti orang lain. Ia bisa menjadi kecewa, bisa putus harapan, bisa patah semangat dan sakit hati. Semua itu tak nampak, jika Anda tak mengenali pendeta Anda dengan baik. Karena itu, pesan saya, berusahalah untuk mengenalnya lebih dekat. Ia butuh seorang kawan yang tepercaya, sebab acapkali ia merasa tersendiri. Dan dalam kesendiriannya, ia lalu jadi delusional: merasa dirinya istimewa, suci, dan kukuh.
Tahukah Anda bahwa
- 1600 pendeta di Gereja-gereja US berhenti atau mengundurkan diri dari pekerjaan mereka setiap bulannya?
- Hampir 20 persen pendeta menderita stres atau burnout?
- 50 persen pendeta bercerai? (Sumber: James O. Davis, president of Global Pastors Network)
Dengan statistics ini, apakah Anda masih berpikir bahwa pendeta itu bebas masalah, dan kalaupun ada masalah, ia selalu bisa menyelesaikannya sendiri dengan baik?
4. Apa yang dikatakan pendeta dari mimbar, itulah yang ia lakukan dalam kehidupannya sehari-hari.
Saya berharap ini benar, dan sungguh terjadi, setidaknya dalam kehidupan saya sendiri. Sebagai pendeta saya mempergunakan banyak waktu untuk membaca buku dan mempersiapkan kotbah atau pendalaman Alkitab. Sebenarnya makin dalam saya menggali dan belajar, makin banyak pula pesan atau kebenaran yang buat saya sendiri sulit sekali untuk diterapkan. Tapi itu tak boleh jadi alasan saya untuk tak mengkotbahkannya. Nanti Majelis Jemaat bisa kelabakan mencari ganti saya. Maka, mau tak mau, suka tak suka, saya tetap maju berkotbah, menyampaikan pesan yang saya percaya Tuhan hendak bicarakan pada umat-Nya. Apakah dengan mengkotbahkannya berarti saya telah menghidupinya? Tidak. Pesan yang saya beritakan dari mimbar itu juga merupakan Firman Tuhan yang harus saya taati, gumuli, dan laksanakan dengan setia. Sampai sekarang saya masih jatuh bangun dalam melakukan Firman Tuhan, bahkan yang telah saya beritakan sendiri dari mimbar.
Subscribe to:
Posts (Atom)

