Tuesday, November 23, 2010

The value of a man

Karl Barth wrote:
A man may be of value to another man, not because he wishes to be important, not because he possesses some inner wealth of soul, not because of something he is, but because of what he is - not. His importance may consist in his poverty, in his hopes and fears, in his waiting and hurrying, in the direction of his whole being towards what lies beyond his horizon and beyond his power. The importance of an apostle is negative rather than positive. In him a void becomes visible. And for this reason he is something to others: he is able to share grace with them, to focus their attention, and to establish them in waiting and in adoration. Karl Barth, The Epistle to the Romans (London: Oxford University Press, 1960), p. 33.
Banyak orang berpikir untuk menjadi penting, atau dianggap penting, atau kelihatan penting, maka mereka harus berbuat sesuatu, harus duduk di kursi tertentu, harus membikin proyek-proyek besar. Kalau tidak begitu, mereka merasa belum bernilai. Kata-kata Barth di atas perlu kita renungkan dalam-dalam. Ia sedang melawan arus deras pandangan banyak orang. Seorang bernilai bagi orang lain bukan karena sesuatu yang ia miliki, atau apa yang ada pada dirinya, melainkan justru karena sesuatu yang tiada padanya, apa yang bukan berasal dari dirinya. Dalam kemiskinan, dalam pengharapan dan ketakutannya, dalam penantian dan ketergesa-gesaannya, dalam pengarahan diri kepada apa yang berada di luar dirinya, sesuatu yang lebih besar, yang melampaui dirinya. Barth mengingatkan saya pada hymne yang terdapat di Filipi pasal 2, bahwa dengan pengosongan diri seperti Yesus barulah kita bisa berbagi kasih secara genuine; membantu orang lain untuk berfokus bukan pada diri kita lagi, tetapi pada Ia, Sang Penebus yang akan datang kembali.

Monday, November 22, 2010

Menderita dalam komunitas










It’s inhuman to wall yourself up in pain and memories as if in prison. Suffering must open us to others. It must not cause us to reject them. The Talmud tells us that God suffers with man. Why? In order to strengthen the bonds between creation and Creator; God chooses to suffer in order to better understand man and be better understood by him. But you, you insist upon suffering alone. Such suffering shrinks you, diminishes you. Friend, that is almost cruel.
Kalimat di atas diselipkan Elie Wiesel pada salah satu karakter dalam novelnya Gates of the Forest. Yang menarik adalah bagaimana Wiesel memandang penderitaan. Baginya, penderitaan tak sepatutnya dialami seorang diri, ia juga harus dibagi-bagi dengan orang lain dalam komunitas. Seperti sembako aje, dibagi-bagi. Tapi jangan keliru, saya setuju banget dengan Wiesel. Menderita seorang diri tak membuat kita tambah perkasa, tambah suci - holier than thou, atau tambah saleh; sebaliknya, ia memiskinkan. Saya kira Wiesel tak berlebihan dengan mengatakan perbuatan seperti itu mendekati kezaliman.

Power

Power berada di mana-mana. Power struggle dapat kita jumpai dalam setiap relasi antarpribadi. Antara suami-istri, antara ortu-anak, antara guru-murid, antara bos-karyawan, antara pendeta-anggota jemaat yang dilayaninya. Mestinya kita tidak perlu khawatir atau takut akan power. Karena power memang diperlukan dalam kehidupan ini. Sejauh power dipakai dengan arif bijaksana, bukan buat membelenggu orang lain, bukan buat merebut hak orang lain, bukan buat menindas orang lain (dengan kata lain, power abuse), melainkan untuk melayani, mengangkat, meringankan beban, membangun, menyembuhkan, memperkaya. Meminjam Karen Lebacqz, power for bukan power over. James Olthuis dalam ‘Beautiful Risk’ menawarkan term lain, yaitu power-with.

Jadi, sebenarnya kita tidak usah takut pada power. Ketakutan kita pada power malah memberi 'makan’ power yang kita takuti itu. Pikiran-pikiran dan tindak-tanduk kita seakan dihantuinya. Ke manapun kita pergi dikuntitnya. Apapun yang kita lakukan dibayang-bayanginya. Ah, apa kita tidak jadi lumpuh dibuatnya?!

Coba deh cermati vicious circle ini. Makin kita takut, makin besar kuasanya atas kita, makin ia melumpuhkan kita, akibatnya, kita makin takut lagi padanya. Begitu terus, berputar tak henti-henti sampai kita mati sendiri.

Kawan, bukankah kita percaya dan tahu bahwa power terbesar yang tiada duanya di dunia dan akhirat terletak di tangan Tuhan saja, dan bukan di tangan manusia, siapapun dia? Maka, takutlah akan Allah, bukan manusia. Takutlah pada kuasa Allah, bukan pada kuasa manusia. Biarlah kebesaran dan kemuliaan Allah saja yang menguasai hati dan imajinasi kita. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai rohmu.

Wednesday, November 17, 2010

Hauerwas

Stanley Hauerwas is one of my favorite theologians. He, by the way, has almost convinced me I need to subscribe pacifism. It was close, Stan, ha-ha. He is also a prolific writer. Some of his books include, The Peaceable Kingdom (1983), Against the Nations 1985), Resident Aliens (1989), After Christendom (1991), Dispatches from the Front (1994), Christianity, Democracy and the Radical Ordinary (2008), and most recently Hannah's Child: A Theologian's Memoir (2010). Here is an interview with Hauerwas at Duke University.

Keluhuran dalam penderitaan

Eugene kembali mengingatkan saya akan betapa pentingnya penderitaan dalam kehidupan Kristen. Baca sub-bagian Dignity dalam pasal III Five Smooth Stones for Pastoral Work.

“Suffering is an event in which we are particularly vulnerable to grace, able to recognize dimensions in God and depths in the self. To treat it as a ‘problem’ is to demean the person” (p. 139).

Kebanyakan dari kita melihat penderitaan sebagai masalah untuk dipecahkan, untuk diperbaiki, untuk dicari jalan keluarnya. Kita menghargai solusi cepat. Bukankah di mana-mana orang berpikir seperti itu? Dokter mana yang mampu memberikan obat manjur, begitu dimakan seketika sembuh, ia yang kita cari. Kalau perlu, saking cepatnya, hingga kita tidak ingat lagi bahwa kita pernah menderita. Ide dasarnya adalah buat penderitaan pergi secepat-cepatnya, tinggalkan segera, sudah itu lupakan. Pertanyaannya, apakah itu nyata? Cobalah pikirkan ulang, apakah benar duka lara seorang yang barusan kehilangan kekasihnya bisa dikelola seperti mengelola sebuah perusahaan? Jangan-jangan hari ini Gereja lebih mengenal teknik manipulasi ‘grief management’ ketimbang berusaha untuk saling menanggung beban satu sama lain, ketimbang melatih kesabaran (longsuffering). Seriuskah kita menanggapi penderitaan yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita?

Terima kasih pada Eugene yang mengajak saya kembali pada Ratapan, sebuah kitab yang agaknya ‘neglected’ bagi banyak Kristen. Dalam kitab tersebut penderitaan justru dipandang sebagai pengalaman yang luhur. Penderitaan dihadapi, ditemui. Ratapan tak mau memberikan kita jalan keluar, ia juga tak berpretensi untuk ‘membantu’ kita; sebaliknya, ia mengajar kita untuk meresponi penderitaan sebagai sesuatu yang signifikan. Ratapan tak mengizinkan kita mengambil sikap ‘hanya numpang lewat’ terhadap penderitaan, karena ketika itu kita sedang mengalami kemuliaan Kristus yang nampak pada salib-Nya. Ingat Injil Yohanes, di salib Yesus diangkat, ditinggikan, diagungkan. Tentunya berhadapan dengan Kristus mahamulia, kita tak sudi pergi cepat-cepat. Jika kita, pelayan-pelayan gerejawi, memahami hal ini dengan baik, saya percaya tanggapan kita terhadap penderitaan orang lain akan berbeda dari yang dunia ini tawarkan. Kita mungkin akan kurang berbuat (do less), tetapi akan lebih menjadi (be more). Dengan kata lain, dalam pelayanan kita akan lebih menghargai si penderita.

“By rooting the pastor in a way of taking suffering seriously, it encourages the ‘longsuffering’ of pastoral work, gives meaning and dignity to the person who suffers, and leaves the healing up to God in Christ on the cross” (p. 141).

Tuesday, November 16, 2010

The possibility

An interview with Eugene Peterson at Luther Seminary.



Listener panel

Tentang pendampingan

Tugas seorang rohaniwan adalah mendampingi orang yang sedang menderita, berbagi dengan kesusahannya, menyelami nyeri dan absurditas yang ia rasakan, berjalan dengannya menuruni lembah kekelaman. Seorang rohaniwan tak dipanggil untuk mengangkat penderitaan orang lain, meminimalkan, atau meringankan bebannya. Model atau tauladan kita ialah Yesus Kristus yang bersedia menanggung penyakit kita; memikul kesengsaraan kita (Yesaya 53: 4). Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh seorang rohaniwan sebenarnya mengintensifikasi kapasitas orang yang sedang menderita untuk menyelami penderitaannya; memampukan ia untuk merasakan nyeri; menyobek tirai yang membentang di antara kehidupan dan sakit. Seorang rohaniwan yang berupaya menukar pendampingan melewati lembah kekelaman ini dengan placebo atau obat tenang tak lain ialah seorang pengecut. Atau dengan metafor lain: Melakukan itu sama seperti menggambar graffiti di dinding lembah kekelaman untuk menarik perhatian orang yang sedang berjuang melaluinya.

Sumber:
Eugene H. Peterson, Five smooth stones for pastoral work (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1992), pp. 135-136.

Monday, November 15, 2010

Teo-logi

















Charles Spurgeon adalah pengkhotbah tersohor abad ke-19. Di sebuah website yang didedikasikan baginya terdapat pernyataan seperti ini: “Jika di Amerika ada D. L. Moody, maka di Inggris ada Charles Spurgeon.” Sejak berumur 19 tahun Spurgeon telah berkhotbah kepada orang banyak. Ada catatan yang mengatakan bahwa ia pernah berkhotbah di hadapan 24,000 orang. Ketika Gereja Metropolitan Tabernacle berdiri, ribuan orang berkumpul setiap hari Minggu selama 40 tahun untuk mendengarkan khotbah-khotbahnya.

Dengan tulisan pendek ini, saya hendak memperkenalkan seorang perempuan yang jarang kita dengar namanya, namun yang pengaruhnya begitu besar terhadap Spurgeon.

Ketika berumur 15 tahun, Spurgeon menjadi guru piket (usher) dan pelajar di Newmarket, Cambridgeshire. Di sanalah, menurut pengakuannya, ia mendapat pelajaran teologi pertama dari seorang perempuan tua penganut 5 pokok Calvinisme ala Baptist ketat bernama Mary King.

Yang mengagumkan, Mary King, dipanggil juga ‘the cook,’ sebenarnya hanya seorang pembantu dan tukang masak di sekolah Newmarket. Meski begitu ia memiliki pemahaman Alkitab yang menyeluruh. Pelajaran teologi ia peroleh terutama dari The Gospel Standard (mungkin sebuah jurnal Kristen) yang ia baca secara teratur.

Seperti telah saya katakan di atas, tak banyak orang mengenal Mary King. Saya pun baru menemukannya belakangan ini. Namun demikian, pengaruh Mary King terhadap kehidupan pelayanan Spurgeon tak dapat dianggap kecil. Cobalah baca apa yang dikatakan Spurgeon sendiri mengenai Mary King:
She liked something very sweet indeed, good strong Calvinistic doctrine, but she lived strongly as well as fed strongly. Many a time we have gone over the covenant of grace together, and talked of the personal election of the saints, their union to Christ, their final perseverance and what vital godliness meant; and I do believe that I learnt more from her than I should have learned from any six doctors of divinity of the sort we have nowadays.
Spurgeon percaya bahwa pelajaran teologi yang ia dapati dari Mary King lebih banyak daripada yang mungkin ia peroleh dari 6 doktor teologi sekalipun. Tidakkah ia luar biasa?

Mungkin kita pernah merasa minder dan berkata, “Ah, siapalah saya hanya seorang awam.” Kita merasa inadequate untuk mengajar orang lain. Kita kan bukan pendeta. Kita tidak terpelajar. Kita tak pernah mengecap pendidikan teologi formal. Dan masih banyak excuses lain yang bisa kita daftarkan di sini. Sebagian dari daftar itu tentu saja ada benarnya. Memang benar bahwa kebanyakan kita tidak berpendidikan teologi formal. Benar juga bahwa sebagian dari kita hanya tamatan high school. Tapi siapa bilang seorang tamatan high school tak pantas bicara teologi. Siapa bilang seorang yang tak berpendidikan teologi formal mesti tutup mulut dan tak usah peduli pada urusan-urusan doktrin. Apakah teologi telah menjadi monopoli kaum elit?

Di Kisah Para Rasul pasal 18 ada pasangan suami istri bernama Akwila dan Priskila. Ingat, mereka pun bukan kaum terpelajar. Mereka hanya pengusaha tenda yang sehari-harinya berurusan dengan transaksi dagang, order, berbagai jenis kulit, dan material tenda lainnya. Namun demikian, status dan pekerjaan sehari-hari mereka tak lantas membuat mereka terbelakang dalam soal-soal doktrin Kristen. Lukas, penulis Kisah Para Rasul, dengan lugas mengatakan bahwa Priskila dan Akwila mampu menjelaskan Jalan Tuhan dengan lebih akurat (lihat ayat 26; terjemahan yang lebih baik dari kata Yunani ‘akribesteron’ adalah secara lebih akurat, bukan seperti LAI menerjemahkannya ‘dengan teliti.’) ketimbang Apolos melakukannya. Padahal Apolos adalah seorang terpelajar dari Alexandria - Mesir, seorang yang sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci.

Kalau begitu, teologi, doktrin Kristen, akurasi, kebenaran seharusnya tak lagi kita pandang sebagai urusan dan tanggung jawab pendeta dan teolog tetapi juga urusan dan tanggung jawab kita bersama. Doktrin gereja mestinya menjadi concern setiap orang yang mengaku percaya pada Yesus Kristus.

Monday, November 8, 2010

Berkhotbah dengan air mata

Kemarin, ketika menyampaikan khotbah, saya menangis. Air mata saya mengalir cukup deras. Pernah dulu, kira-kira tiga tahun silam, saya mengalami hal yang sama. Saya merasa sangat vulnerable, namun Firman Tuhan memberikan assurance. Saya merasa tak pantas melayani, namun Tuhan masih sudi menerima saya. Perlakuan semacam dan kesadaran tersebut tak dapat saya elakkan benar-benar menggetarkan hati. Saya terharu. Saya menangis.

Kali ini terjadi ketika dalam khotbah saya tiba pada sebuah point bahwa orang-orang kepercayaan Tuhan sesungguhnya sangat dikasihi, dihargai, dan dipercayai-Nya. Problems yang saya hadapi belakangan membuat saya jatuh pada apatisme. Saya menjadi sombong, merasa benar sendiri. Saya lupa diri. Tapi kemudian saya teringat kawan saya, Karl Lin, yang walau telah berusia 60 tahun masih bertekad keras untuk melayani jemaat Tuhan dengan segenap hati, apapun tantangan yang ia hadapi, diperlakukan kasar dan tak pantas oleh orang-orang di gerejanya, ia masih berusaha memperlihatkan sikap Kristus yang lemah lembut, dan memandang pekerjaan pelayanan sebagai pekerjaan yang amat luhur. Ia berkata pada saya, “Ketika kita berkhotbah, Tuhan sedang memakai kita. Ingat itu! Ketika itu tiada pribadi yang lebih penting dari pada Tuhan sendiri.”

Jika Karl memiliki high view mengenai pelayanan, bagaimana dengan saya sekarang? Bagaimana pula dengan teman-teman saya di gereja ini, apakah mereka masih memiliki kekaguman dan keseriusan yang ada pada Karl? Perasaan gagal namun masih diberi kesempatan, haru akan kesabaran dan kasih Tuhan, menyebabkan air mata saya malam itu tak tertahankan lagi.

Monday, November 1, 2010

Run!

Hebrews 11: 39 – 40
39 And all these, though commended through their faith, did not receive what was promised, 40 since God had provided something better for us, that apart from us they should not be made perfect.

Setiap orang Kristen, tanpa terkecuali, dipanggil untuk berlari dalam perlombaan. To run the race that is set before us. Ayat 39-40 memberikan satu motivasi penting untuk berlari sampai kita mencapai garis finish.

Something better for us
All these, mereka semua. Siapa yang dimaksud dengan mereka semua? Mereka semua adalah para saksi iman yang disebutkan dalam Hebrews 11. Mereka adalah Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Sara, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Rahab, Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud, Samuel dan para nabi. Penulis tentu saja tak memberikan complete list dari para saksi. Sebab katanya, jika ia harus melakukannya, ia akan kekurangan waktu. Baik, mari kita lanjutkan pembahasan ini.

Penulis berkata selanjutnya bahwa mereka semua tidak menerima apa yang dijanjikan. Lho, mengapa? Apakah mereka quit di tengah jalan? Apakah mereka gagal mencapai garis akhir? Tidak. Ayat 39 berkata bahwa iman mereka telah memberikan pada mereka suatu kesaksian yang baik. Jadi, bukan karena kesalahan mereka, jika mereka tidak menerima apa yang dijanjikan. Lalu mengapa? Ayat 40 menjawab pertanyaan kita. Sebab Allah telah menyediakan something better. Apa yang dimaksud dengan something better? Temukan jawabannya di pasal 11, ayat 10, karena iman Abraham menantikan tanah yang lebih baik, yaitu sebuah kota yang berfondasi, dan yang mana Allah sendiri adalah pendirinya. Ditegaskan lagi dalam ayat 16, karena iman mereka semua merindukan tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air surgawi. Allah telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. Sebuah kota yang oleh St. Augustine disebut De Civitate Dei. Sampai di sini segala sesuatu nampaknya makes sense. Tapi tunggu dulu. Perhatikan baik-baik, penulis tak hanya berkata something better. Ia berkata, “something better for us.” Seandainya saja ia berkata something better for them, itu tidaklah sulit kita pahami. Sebab memang begitu line of thought-nya sejak tadi. Okay, sekarang bagaimana frase itu sebaiknya dimengerti?

Sebenarnya ayat 39 dan 40 merupakan kalimat pengait antara mereka, para kudus yang hidup di zaman Perjanjian Lama dan kita, para kudus yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Jadi seperti ada cord of faith yang teruntai tak terputus. Mereka dan kita ternyata tak berdiri sendiri-sendiri; sebaliknya, mereka dan kita berkait erat. Allah menyediakan something better tak hanya untuk mereka, tetapi juga untuk kita. Namun, sebagaimana ungkapan Prancis, noblesse oblige: pada keluhuran melekat kewajiban, baiklah kita memerhatikan pula kewajiban apa yang dipercayakan pada kita. Apakah itu? Ayat 40 berkata bahwa apart from us, mereka tak akan menjadi sempurna. Dihubungkan dengan metafora perlombaan lari, ini berarti kesempurnaan yang dijanjikan Allah baru akan tercapai jika semua orang tebusan-Nya menyelesaikan perlombaan imannya. Para kudus dalam Perjanjian Lama telah menyelesaikan bagian mereka. Mereka tidak sempurna, tapi iman mereka telah memberikan kesaksian yang baik, yaitu dengan menyelesaikan bagian mereka. Sekarang tinggal kita yang hidup di zaman Gereja, ya kita pun harus menyelesaikan bagian kita, malahan kitalah barisan runners terakhir yang diharapkan dapat menyentuh garis akhir. Ingatlah ini, Sobat, tanpa kita mereka tak dapat sampai pada kesempurnaan. Maka tetaplah berjuang dan capailah garis akhir itu.

Friday, October 29, 2010

Fluant lacrimae, sed eadem et desinant!

Setelah sekian lama mengeram tanpa menghasilkan apa-apa, rasa rindu menulis tak dapat saya tolak lagi. Saya membuka kitab Five Smooth Stones For Pastoral Work karya Eugene Peterson, dan menemukan baris-baris ini.

Lamentations provides a model for dealing with this sense of endlessness in suffering by putting the suffering within the frame of the acrostic. There is a countable, alphabetical scheme - so that when you are at A, you know that Z is, even though a long way off, still there, and that will end the series. The acrostic framework of Lamentations gives a context to the suffering which has boundaries. A sense of finitude is communicated by indirect, nonverbal, means. Fluant lacrimae, sed eadem et desinant! - let the tears flow, but let them also cease! [p. 123]

Bentuk akrostik dalam buku Ratapan oleh karenanya membantu pastors melayani mereka yang sedang menderita dengan memberikan kerangka kerja, atau framework, dan dengan demikian mengingatkan mereka yang kita layani bahwa penderitaan tak eksis untuk selamanya. Maka pastors perlu memerhatikan timing. Harus ada saat kita memberikan ruang seluas-luasnya kepada orang yang berduka untuk bertutur mengenai kedukaannya. Tapi kesempatan ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Bukan karena pastors banyak urusan dan tuntutan lain, tapi karena penderitaan dan kedukaan harus diberi batasan, harus ditaruh dalam skema. Dengan kata lain, harus ada kata 'cukup' dalam konseling pastoral.

Baiklah saya akhiri post ini dengan sekali lagi mengutip Eugene, "Evil is recognized and bravely faced, but it is not permitted to become an obsession." [p. 124] Kejahatan harus dikenali dan dihadapi dengan berani, namun tak boleh ia diizinkan menjadi obsesi.

Thursday, October 28, 2010

Festival of friends

i just got back from a pastor's conference on friendship that was held at tyndale. arthur boers, one of the resource peoples, introduced me to the song composed by bruce cockburn, festival of friends. boers said that he wants to see this conference as a festival of friends, which i think it was.

here is the lyric:

5 April 1975. Burritt's Rapids.

An elegant song won't hold up long
When the palace falls and the parlour's gone
We all must leave but it's not the end
We'll meet again at the festival of friends.

Smiles and laughter and pleasant times
There's love in the world but it's hard to find
I'm so glad I found you -- I'd just like to extend
An invitation to the festival of friends.

Some of us live and some of us die
Someday God's going to tell us why
Open your heart and grow with what life sends
That's your ticket to the festival of friends.

Like an imitation of a good thing past
These days of darkness surely will not last
Jesus was here and he's coming again
To lead us to his festival of friends.

Black snake highway -- sheet metal ballet
It's just so much snow on a summer day
Whatever happens, it's not the end
We'll meet again at the festival of friends.

Wednesday, October 6, 2010

Doa Ikrar

Di bawah ini adalah doa ikrar yang dikarang oleh Pdt. John Wesley. Saya mencoba menerjemahkannya secara bebas. Semoga menjadi berkat bagi anda.

Covenant Prayer
John Wesley

I am no longer my own, but thine.
Put me to what thou wilt, rank me with whom thou wilt.
Put me to doing, put me to suffering.
Let me be employed for thee or laid aside for thee,
exalted for thee or brought low for thee.
Let me be full, let me be empty.
Let me have all things, let me have nothing.
I freely and heartily yield all things to thy pleasure and disposal.
And now, O glorious and blessed God, Father, Son and Holy Spirit,
thou art mine, and I am thine.
So be it.
And the covenant which I have made on earth,
let it be ratified in heaven.
Amen.

Doa Ikrar
John Wesley

Aku bukan milikku lagi, tapi milik-Mu.
Taruh aku di mana Kau mau, letakkan aku dengan siapa Kau mau.
Tempatkan aku untuk bekerja, tempatkan aku untuk menderita.
Izinkan aku dikaryakan bagi-Mu atau dikesampingkan bagi-Mu,
ditinggikan bagi-Mu atau direndahkan bagi-Mu.
Biarkan aku penuh, biarkan aku kosong.
Biarkan aku memiliki segalanya, biarkan aku tak punya apa-apa.
Dengan bebas dan segenap hati aku menyerahkan segalanya untuk dipakai sesuka hati-Mu.
Dan kini, Ya Allah yang Mulia dan Terpuji, Bapa, Putra dan Roh Kudus,
Engkau milikku dan aku milik-Mu.
Kehendak-Mu jadilah.
Dan perjanjan yang telah kubuat di bumi,
kiranya terjadi pula di surga.
Amin.

Wednesday, September 15, 2010

Friendship

Minggu lalu, dalam perayaan ulang tahun gereja yang ke-9, saya berkhotbah mengenai spiritual friendship. Hari ini tanpa sengaja saya menemukan sebuah lagu ballad jadoel berjudul "He Ain't Heavy, He's My Brother" gubahan Bobby Scott dan Bob Russell yang memperkuat pesan saya. Selamat merenungkan lagu ini. Liriknya saya sertakan di bawah video clip.



The road is long
With many a winding turn
That leads us to who knows where
Who knows where
But I'm strong
Strong enough to carry him
He ain't heavy, he's my brother.

So on we go
His welfare is of my concern
No burden is he to bear
We'll get there
For I know
He would not encumber me

If I'm laden at all
I'm laden with sadness
That everyone's heart
Isn't filled with the gladness
Of love for one another.

It's a long, long road
From which there is no return
While we're on the way to there
Why not share
And the load
Doesn't weigh me down at all
He ain't heavy, he's my brother.

He's my brother
He ain't heavy, he's my brother.

Wednesday, August 11, 2010

Bahaya namun bahagia

Berikut ini stastistik pendeta dari “Pastors At Greater Risk” by H. B. London Jr. and Neil Wiseman, Regal Books, 2003.
  • 80% of pastors say they have insufficient time with spouse and that ministry has a negative effect on their family.
  • 40% report a serious conflict with a parishioner once a month.
  • 33% say that being in ministry is an outright hazard to their family.
  • 75% report they've had a significant stress-related crisis at least once in their ministry.
  • 58% of pastors indicate that their spouse needs to work either part time or full time to supplement the family income.
  • 56% of pastors' wives say they have no close friends.
  • 45% of pastors' wives say the greatest danger to them and family is physical, emotional, mental and spiritual burnout.
  • 21% of pastors' wives want more privacy.
  • Pastors who work fewer than 50 hours a week are 35% more likely to be terminated.
  • 40% of pastors considered leaving the pastorate in the past three months.
Kalau anda mulai merasa sesak, maafkan saya, berikut ini statistik tambahan:
  • 1500 pastors leave the ministry each month due to moral failure, spiritual burnout, or contention in their churches.
  • 50% of pastors’ marriages will end in divorce.
  • 80% of pastors and eighty-four percent of their spouses feel unqualified and discouraged in their role as pastors.
  • 50% of pastors are so discouraged that they would leave the ministry if they could, but have no other way of making a living.
  • 80% of seminary and Bible school graduates who enter the ministry will leave the ministry within the first five years.
  • 70% of pastors constantly fight depression.
  • Almost 50% polled said they have had an extra-marital affair since beginning their ministry.
  • 70% said the only time they spend studying the Word is when they are preparing their sermons. [Compiled by pastor Darrin Patrick]
Agar terjadi ekuilibrium, maka saya sertakan pula di bawah ini sebuah reportase yang terang. Sekarang anda boleh merasa lega dan tersenyum lebar.

Service to others not just a job
Clergy happiest in U.S. work force, survey indicates
By KRISTINA HERRNDOBLER Copyright 2007 Houston Chronicle
April 20, 2007, 2:05PM

Clergy may complain about their salaries or the blurred boundaries between their work and private lives, but apparently they are as happy as it gets.

That's according to a study on job satisfaction and general happiness by the University of Chicago, in which 87 percent of clergy polled said they were very satisfied with their jobs. Clergy also topped the happiness scale, with 67 percent saying they were very happy.

When researchers asked those questions of 27,500 randomly selected U.S. workers over the course of nearly two decades, only 47 percent of people said they were very satisfied with their jobs and 33 percent said they were generally very happy. The survey did not show whether job satisfaction and happiness rates had changed over the years.

After clergy, the most satisfied workers were firefighters at 80 percent and physical therapists at 78 percent, according to the report released Tuesday.

Roofers ranked dead last, with only 25 percent saying they found their work satisfying.

The most satisfying professions are those that involve helping others, noted report author Tom W. Smith of the National Opinion Research Center at the University of Chicago.

Even so, he called the clergy's rankings striking, saying they were the study's single strongest finding.

They are also a bit surprising, said J. Pittman McGehee, a former dean of Houston's Christ Church Cathedral who now works as Jungian analyst, counseling both clergy and their families.

After learning of this study, McGehee asked a group of clergy their thoughts: "They laughed out loud when I said 87 percent," he said. "They were shocked."

Out of respect for ordination, the clergy surveyed may have felt constrained to tell researchers that they were satisfied and happy in a way that other workers wouldn't, he said.

Nonetheless, McGehee said most clergy love their calling, meaning the teaching, preaching, pastoring and sacramental part of it. They aren't fond of the politics, the pay and the administrative duties.

"The vocational part of it is as fulfilling as any job could be," he said. "The job is a hard one because of all the things you are asked to do, none of which you are trained for and none of which you are called to do."

When Jackson W. Carroll, a professor emeritus of religion and society at Duke Divinity School, set out to study ministers' job satisfaction some years back, he assumed the results would show low satisfaction and morale.

“We were surprised to find that clergy were both basically satisfied and highly committed to their calling,” Carroll said. "That was not what we had expected to find based on informal conversation and listening to clergy in gripe sessions."

Numerous studies have been done on the satisfaction rates of clergy from various religions and denominations, he said, and they overwhelmingly show high levels of satisfaction, likely because they feel their work is not just a job but a calling from God, he said.

But for their wives and families, who may not feel the same calling, it can be a tough life.

Ginger Kolbaba, the daughter of a pastor and co-author of the new novel Desperate Pastors' Wives, said that she has seen how spiritually satisfying her father's life has been to him, especially when he can help people.

But his job took its toll on their family, she said.

"I'm one of the fortunate ones, in that I didn't do a lot of outward rebelling, like doing drugs and partying," she said. "But I turned it inward to anger. Kids don't sign up for the gig."

Austin pastor Dan Davis, a former businessman who now heads pastor covenant groups, said there is a tremendous amount of pressure on those he meets with, and their families, including overbearing church boards and sharing parishioners' struggles and pain. But the end goal is worthy, he said.

"There is a deeper satisfaction that comes from knowing you are connecting people with God," Davis said. "You don't experience that in the secular world." [kristina.herrndobler@chron.com]